Jumat, 29 Desember 2017

Free Access to Soundrenaline 2017 - Bali!

Karena blog ini banyak menampilkan huruf "A" just remind all of you guys : Merokok Membunuhmu!

Thank you for this opportunities..

Nonton acara musik dengan beli tiket reguler itu biasa,  lain cerita dengan mendapatkan free pass langsung dari si empunya gawe itu menjadi pengalaman yang istimewa.. Hha.. Bagi yang tiap tahun datang buat nonton Soundrenaline di Bali mungkin sudah biasa dengan suasana venue kali ya,,tapi ini akan menjadi pengalaman pertama bagi Beta. Ok,  gw bakal cerita dari sudut pandang Beta sebagai salah satu pemenang free pass dan apa saja kegiatan Beta sebelum dan selama acara berlangsung.  Singkat cerita Beta adalah Satu dari lima orang pemenang kompetisi yang terpilih untuk mengikuti rangkaian Soundrenaline 2017 di Bali termasuk free access, akomodasi, tiket pesawat pulang pergi dan gabung di A Campers (tempat tinggal kami selama kegiatan yang lebih tepat disebut summer camp) dengan berbagai komunitas indipendent dan komunitas kreatif dari beberapa daerah di Indonesia. Dan kabar baiknya, free pass ini buat dua orang, Wohooo....mantab! Pas di telpon oleh panitia itu rasanya langsung jingkrak-jingkrak, finally bisa kabur bentar dan refreshing dari tempat kerja,,dan itu ke Bali..Yeah!
Semacam pengumuman resmi dari panitia..*dan tertulis nama Beta disana..hha.. :))
DAY #1
Semacam Preparation

Terakhir kali nonton Soundrenaline 2008 di Jogja,  kapan lagi dapat kesempatan ke Bali dan menikmati salah satu gelaran musik terbesar di Indonesia yang exist dari tahun 2002 ini. Berangkat dari Ambon dan landing di Bali pukul 11.00 WITA di sambut dengan crew di bandara dan diantarkan langsung di A Campers yang ternyata salu lokasi dimana acara Soundrenaline berlangsung: Garuda Wisnu Kencana (GWK). 


Welcome A-Campers from around indonesia!


Official goodie bag & amenities..

Semacam lobby lounge buat nongkrong & bersosialisasi bareng temen-temen lintas komunitas

Mini stage yang bakal menemani aktivitas kita setiap hari!

Setelah daftar ulang untuk mengetahui lokasi camp di mana tempat kita menginap, makan siang, dan akhirnya lanjut buat eksplorasi venue seharian dari sore sampai malam. Nah malam hari kita bebas ekplore dari panggung ke panggung, melihat lebih dekat pembuatan instalasi, lighting, check sound, yang jelas kita bisa lari-larian di lapangan GWK sampe tengah malem'lah..hhe.. 
A - Stage as Main Stage Soundrenaline United We Loud. Band-band internasional tempatnya di panggung yang megah ini!



Refined Stage, dimana semua musisi beraliran jazz & indiefolk manggung di sini
Burst Stage; panggung dimana deretan band / artis yang membawakan lagu melow & sendu 
Sebagai anak grafis, Beta bisa bilang design rest area ini totalitas bengut.. :O 


United we Loud, stage; kebanyakan anak rock & pop rock pada nongkrong di sini
Photo Booth yang gedhe mentereng..
Booth official merchandise.. T-shirt hunting harus rela antre sebelum kehabisan.. :))
Panggung utama di bagi menjadi 4 stage,  pastinya setiap panggung ada guest star dan jagoan'nya masing-masing,  JET,  Tulus, Sheila on 7 sudah menjadi daftar list Beta yang pantang buat di lewatkan... Sebagai anak design & advertising, Beta harus mengakui,  Sampoerna selalu bikin acara yang all out (bisa di bilang jor-joran) dari venue, sound system, lighting, stage, instalasi yang kontras dengan kolaborasi komunitas, menjadikan siapapun akan mendapatkan pengalaman tersendiri & brand experience (dengan simbolisasi huruf "A" dimana-mana) saat datang ke GWK. 
Instalasi pintu antar stage

Instalasi yang futuristic and also instagramable


Live mural di public area

GWK seluas 4000 meter persegi  berhasil kami jelajahi selama 3 jam.. Hha.. Setelah explore venue dan merancang strategi agar tidak terlewat jadwal manggung band jagoan kami esok hari,  akhirnya balik buat nongkrong di "private party" A Campers,  dimana seluruh peserta, temen-temen komunitas dan beberapa band indie bisa saling berbaur di sini *yang pada akhirnya malah singalong sampai tengah malam.. Hha.. 



DAY #2
Backstage Access, menembus "garis merah" larangan bagi pengunjung 

Morning universe,,, bersiap hari ini dengan sarapan pagi yang disiapkan oleh Bang Anton Ismael dengan menu smoked fish & beef.. Btw, selain 'jago masak' tenyata Bung yg satu ini adalah seorang guru dan fotografer spesialis gigs,  bisa check di laman www.thirdeyespace.com untuk mengetahu lebih lanjut.
Fish & smoked beef
Selesai sarapan pagi, kami siap-siap untuk mengikuti backstage tour yang telah dijadwalkan oleh panitia. Nah, ini adalah akses istimewa yang nggak sembarangan orang bisa masuk area ‘red line” ini, dan beruntungnya kami dapat melihat langsung kesibukan dan persiapan apa saja yang dilakukan oleh crew di belakang panggung sebelum gate Soundrenaline secara resmi di buka untuk umum sekitan pukul 15.00 WITA.
Yah,,foto kayak gini mah hukum'nya wajib..jhha..



Antri giliran untuk memasuki area "garis merah"
Ternyata di bawah pangung terdapat "lorong rahasia",
hal ini memudahkan mobilitas artis maupun crew di tengah ribuan pemgunjung & rangkaian kabel
All crew (specially for sound man) stand by for prepare the stage
Udah kayak study tour kan ya..wkwk..
Just amaze dengan tebing kapur yang terbelah.. 

Stand mercahndise... Yok, yang punya GAP ID, langsung tukar free T-shirt di sini
Pastikan jam tangan dan chip ticket selalu stand by di tangan agara tidak terlewat jadwal manggung band kesayangan
Nah.. Pukul 15.00 WITA, gate secara resmi di buka, pengunjung sudah mulai memasuki area venue. sekedar tips (pengalaman pribadi) pastikan e-ticket yang berbentuk semacam chip ini dipasang erat - erat, karena jika lepas atau hilang, kalian nggak bisa masuk lagi karena penjagaan security dan panitia yang cukup ketat. Chip ini juga akan di scan barcode, jadi ngak bisa keluar masuk pintu gerbang sembarangan apalagi sampai berkali-kali. Untuk tips selanjutnya, pastikan menggunakn jam tangan serta air mineal di totebag kalian ya. Hal ini akan memudahkan teman-teman untuk selalu on time, pastinya nggak mau kan  ketinggalan band kesayangan saat perform di panggung lain kan.. Kemana-mana bawa-bawa air mineral? Yo'i, seriously,,ini luas GWK 4.000 m2 Bro.. dan jarak dari panggung ke panggung itu jauh banget, ditambah cuaca panas, belum lagi agak sorean dikit udah desak-desaikan dengan ribuan orang, air mineral bakalan sangat membantu kalian banget. Yang pasti, sore itu Beta melewatkan beberapa perform karena harus balik ke camp karena batere hp low bate.. alhasil Payung Teduh & Efek Rumah Kaca terlewatkan..gagal total singalong bareng lagu "Akad" yang sedang booming itu.. :'((
Nggak mau kelewat list band-band kesayangan, Beta langsung memutuskan nongkrong di Burst Stage. Sore menjelang malam yang syahdu ditemani Andien, Tulus, dan kawan-kawan...
Burst Stage venue...
Entah kenapa ya, menurut Beta, Andien ini awet muda dan suaranya nggak berubah...



"Yang terburuk kelak jadi yang terbaik".. Tulus..
Antrean untuk nonton Star & Rabbit; udah feeling banget bakalan antre kayak gini :(
Yah, walaupun kelewat beberapa lagu, akhirnya lagu Man Upon The Hill menjadi penutup yang epic dari Star & Rabbit
Asli, giant map ini bantu banget agar nggak nyasar..
Kelar nongkrong di Burst stage,, pindah lokasi ke A-Stage untuk mantengin international artis. Hari ke-dua kelar.. pegeeeel Bro.. istirahat dan bersiap untuk kegiatan esok hari. 

DAY #3
Bertemu dengan teman lama
Small visit Gianyar - Ubud
Hari ke-tiga, at least ini adalah hari terakhir rangkaian A-Campers di Soundrenaline. Iseng-iseng posting suasana stage soundrenaline, eh ada sahabat lama waktu kuliah di Jogja dulu (kebetulan tinggal & asli di Bali) saling comment yang berakhir janjian untuk ketemuan di Gianyar. Hehe.. okelah, karena kemarin seharian sudah berpanas-panasan di GWK, hari ini kabur bentar boleh kan ya..hha.. Explore ubud, kulineran di Pasar Gianyar seharian bareng teman lama, there is a lot's of fun.. Balik sore sebelum akhirnya nongkrong di A-Stage & United We Loud untuk pantengin sederetan band pop rock papan atas Indonesia dan band internasional.
Closing party...

"Look what you done"... JET.. Astaga..ini mah lagu top of mind di radio pas jaman SMP

Pecaaah.....

Lady Rocker Tantri KOTAK on Stage Baby... :*

Singalong bareng Sheila On 7.. Nostalgia jaman anak sekolah..

Partner in crime.. 
Makassar digoyang maang..hha...

Daaan... akhirnya rangkaian tiga hari ini kelar. Thank you so much A-Mild for this opportunities,, balik'nya makin seru karena satu pesawat dengan anak-anak GoAhead People Makassar.. Mantab'lah..Sampai jumpa tahun depan.. Boleh deh kalau ada kesempatan "free accomodation" lagi..hhe.. 

FJI, For Jekakers Information
1. Tiket Soundrenaline terjangkau kok. Kalau nggak salah untuk one day 150rb, sementara untuk paket terusan dua hari 300k. Tiket bisa dibeli on the spot / by online. Pantengin official instagramnya ya.
2. Banyak banget stand official merchandise Soundrenaline yang di jual di sini. Banyak juga yang "free" alias gratisan.
3. Kalau memang ada rencana untuk melihat Soundrenaline (lagi) tahun ini, ada baiknya punya account www.goaheadpeople.id. Kenapa harus punya account ini, kalian bisa dapatkan pengalaman yang sama seperti Beta (mendapatkan akomodasi free) dari banyak kuis dan kompetisi yang mereka buat. Banyak juga creative chalenge yang bisa kalian ikuti. Dan bakalan banyak banget rewards / hadiah yang bakalan kalian dapet sekaligus kesempatan untuk bertemu banyak sekali praktisi di bidang kreatif. Serunya lagi jika kalian punya nih account, kalian akan mendapatkan Personal GAP ID (semacam barcode ID) yang bisa kalian tuker dengan FREE Merchandise saat kalian dateng ke Soundrenaline. Ya, at lest punya account nggak ada ruginya'lah..hhe..
4. Siapin power bank.. Jangan sampai kelewat momen seru bareng band idola gara-gara HP mati.
5. Minimal usia 18+ ya, don't forget to bring your ID Card during join this event

Sabtu, 20 Mei 2017

Menjadi Bagian dari; 200 Tahun Festival Pattimura

 

*Sayang banget kalau pengalaman ini tidak Beta bagikan ke teman-teman. Selamat membaca..hhe.. 

Lawamena Haulala

Suatu kesempatan berharga ketika Beta mendapat tugas bersama rekan-rekan sekerja di kantor, melihat langsung rangkaian prosesi adat dalam rangka memperingati Hari Pattimura; Pahlawan Nasional dari Maluku. Nah yang membuat istimewanya lagi peringatan kali ini adalah yang ke-200 th.  Peringatan Hari Pattimura diperingati setiap tanggal 15 Mei di Saparua. Yap, Kapitan Pattimura’lah yang menyulut semangat pemuda dan masyarakat Saparua untuk menyerbu benteng Duurstede, basis pertahanan Belanda pada 15 Mei 1817. Tentunya tak lain dan tak bukan bahwa penyerbuan ini didasari oleh monopoli rempah-rempah (cengkeh & pala) yang dilakukan oleh VOC di daerah ini. Untuk menuju Saparua, teman-teman dapat menggunakan speed motor dari Pelabuhan Pasar Tulehu menuju Haria (Saparua). Tarif 25.000,- / orang. Atau kapal cepat dari Pelabuhan Besar - Tulehu dengan tarif 125.000 / orang. Perjalanan dari Tulehu ke Saparua menempuh kurang lebih 1 jam. 

Rangkaian Acara

Kami tiba di Saparua Sabtu, 13 Mei 2017. Memang saat itu ada beberapa agenda acara sebelum hari puncak salah satunya acara pesta rakyat (panggung hiburan musik) dengan kedatangan Massada Band, salah satu group band asala Belanda yang masih memiliki darah campuran Maluku. Selain itu juga pertunjunkan pukul sapu keesokan harinya antara dua negeri yang memiliki hubungan persaudaraan adat (Pela / Gandong) antara Negeri Mamala & Tiouw. Pastinya semakin menyemarakkan suasana, apalagi bagi pendatang seperti Beta , ini akan menjadi pengalaman yang berkesan..hhe.. 
Penampilan Massada Band berkolaborasi dengan pemuda-pemudi Saparua

Atraksi Pukul Sapu; pertandingan persahabatan antara Negeri Mamala & Tiouw

Serem? Nggak juga..hhe.. luka ini akan sembuh setelah diolesi dengan ramuan tradisional yang sudah diberi doa

Peserta pukul sapu berfoto di depan Benteng Duurstede

Nah,, jika mau melihat prosesi dari awal, sebenarnya keseluruhan prosesi diawali acara adat dari Negeri Tuhaha. Namun saat itu kami memilih untuk menunggu rombongan di Gunung Saniri. Seluruh warga desa Tuhaha dan beberapa daerah lainnya melakukan arak-arakan menuju Gunung Saniri yang merupakan lokasi sang kapitan merencanakan strategi untuk menyerbu Benteng Durstede yang mengakibatkan terbunuhnya Residen Van Denberg dan keluarganya. Nah di lokasi inilah masyarakat menyalakan obor sebelum melanjutkan arak-arakan semalaman suntuk mengelilingi Saparua.
Nah, di atas batu itu dipercaya masyarakat sang kapitan membuat api untuk menyalakan obor

Menyalakan obornya bukan sembarangan lo, harus melalui prosesi adat. Tidak menggunakan korek api, namun dengan cara tradisional

Tari-tarian cakalele, memberikan semangat sendiri saat prosesi penyalaan obor pattimura 
Warna merah sebagai simbol keberanian dan kewibawaan
Tua, Muda, Laki-Laki dan Perempuan semua larut dalam semangat perjuangan. Jujur saja, Beta merinding saat melihat prosesi arak-arakan ini. Terbayang perjuangan sang Kapitan.

Arak-arakan Obor Pattimura!

Dahulu, obor Pattimura ini diarak secara estafet dar Saparua menuju Lapangan Merdeka di Pusat Kota Ambon. Karena faktor keamanan dan satu lain hal, saat ini prosesi ini hanya dilakukan di Saparua saja. Nah, yang perlu di perhatikan saat teman-teman berniat untuk menyasikan acara ini secara langsung, selain Gunung Saniri; Pantai Waisisil & Rumah Kapitan di Haria adalah lokasi yang paling bersejarah yang pantang untuk dilewatkan. Biasanya akan ada prosesi / atraksi khusus saat arak-arakan obor berlangsung. 
Setelah obor menyala semalam suntuk, pagi harinya (tangal 15 Mei) akan ada prosesi upacara di Lapangan Merdeka Saparua. Nah, selesai dari acara ini, kita akan langsung makan bersama (makan patita) bersama seluruh masyarakat Saparua yang hadir saat itu. (Tentang makan patita, pernah Beta bahas juga di postingan di Negeri Ema ya). Pastinya, aneka olahan kuliner / masakan tradisional tersaji secara gratis untuk semua..hhe..jangan sampai terlewat momen yang satu ini.. J 

Para Mama-Mama sedang menyiapkan aneka hidangan untuk masyarakat 

Budaya makan bersama sepertinya sudah mengakar di Indonesia ya, terlebih bagi masyarakat Maluku

Asik,, tinggal pilih..hhe..

Karena Beta sebelumnya banyak cari tahu sebelum datang ke sana, eh benar saja, ada peluncuran kartu pos spesial 200 th peringatan acara ini. Tanpa menunggu lama, Beta langsung menuju kantor pos yang lokasinya tidak jauh dari lokasi. Bagaimana, tertarik untuk menyaksikannya tahun depan?
Kartu Pos Edidi Khusus

Bersama Nona-Nona dari Saparua..hhe..

Senin, 17 April 2017

Jejakaki Tanah Kei #1





JEJAKAKI TANAH KEI #1
*Sebenarnya perjalanan kali ini tidak hanya ke Kei saja, libur panjang selama 1 minggu Beta habiskan untuk lanjut eksplorasi di dua kabupaten di Provinsi Maluku,(Kab. Maluku Tenggara & Kab. Kep. Tanimbar) So.. cerita kali ini Beta akan jadikan 2 sesi ya, Jejakaki Tanah Kei dan Saumlaki.. Enjoy..

Kei? Jujur, Beta baru tau nama kepulauan yang secara administratif terletak di Kab. Maluku Tenggara ini saat tinggal dan bekerja di Ambon. Banyak’nya postingan kece di instagram adalah salah satu alasan Beta “ngebet banget” buat menjejakan kaki di kepulauan yang dianugrahi salah satu pantai dengan pasir putih terhalus di dunia. Dan Beta harus bilang WOOow....
Terdapat 2 alternatif untuk menuju ke kepulauan eksotis ini, yakni melalui kapal laut dan pesawat udara. Silahkan cek www.pelni.co.id untuk rute kapal Pelni dari Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon ke Tual dan  laman Traveloka, Tiket.com (dll) untuk cek jadwal penerbangan dari Bandara Pattimura, Ambon ke Langgur – Kei. Karena memang sudah mempersiapkan budget untuk trip kali ini, Beta memilih untuk menggunakan pesawat udara menuju Langgur dengan tiket 700rb’an untuk sekali jalan.
Selamat datang di bandara Karel Sadsuitubun - Langgur

Aaah... akhirnya, setelah hampir satu jam perjalanan sampai juga di bandara Langgur. Nyesel itu adalah kelewat untuk ambil foto sesaat sebelum landing tadi.. asli, pemandangan dari atas pesawat keren banget. Oh iya, dalam perjalanan kali ini Beta menginap di salah satu kolega. Semacam ada jemputan dan tempat tinggal, lumayan lah bisa hemat pengeluaran satu malam..hhe.. Dari Bandara nggak langsung ke rumah, sempat mampir di salah satu tempat yang berisikan diorama perjalanan datangnya misionaris katolik di kepulauan ini. Karena sore ini Beta di sambut dengan hujan, Beta memilih untuk istirahat dan mempersiapkan itenerary perjalanan esok hari.
Sejarah 100 th kedatangan Katolik di Maluku
Hujan setibanya di Kota Tual (nampak saat melintasi jembatan Watdek)


PERJALANAN YANG TERTUNDA

Semangat untuk menjelajah Kei.. Pagi ini di sambut dengan cuaca cerah, yess.. niat Beta untuk eksplorasi Kei di restui oleh-Nya.
Pemandangan dari tempat Beta menginap dan tinggal selama di Kei

Mumpung cerah, niat 110% untuk menuju Pantai Ngurtavur... itu lo.. pantai pasir putih yang panjangnya 2 km di tengah lautan. Untuk ke Pantai ini (lebih tepatnya sih Pulau kali ya), dari Tual kalian dapat naik angkot menuju Terminal Langgur (tarif Rp. 3.000,-), kemudian lanjut dengan menggunakan angkot menuju Ohoi (Desa) Debut. Naaah... seni’nya naik angkot di sini nih, Beta harus menunggu selama 1,5 jam sampai orang di dalam angkot ini penuh.. Padahal dari Terminal Langgur ke Debut cuman sebentar saja, sekitar 40 menit’an kalau nggak salah..hha.. Tarif angkot dari Terminal / Pasar Langgur ke Debut Rp. 10.000,-. 
Terminal & Pasar Langgur (Langgur sudah masuk wilayah Kab. Maluku Tenggara)
Dalam angkot penuh dengan belanjaan warga desa.. seru..hhe..
Nah, Gereja inilah yang menandakan kita sudah sampai Pelabuhan Debut

Dari pelabuhan Debut inilah akses ke Ngurtafur
dan beberapa pulau kecil seperti Tanimbar Kei

Pelabuhan Debut yang sudah sepi :(
Yaelah, gegara nunggu angkot lama, udah siang gini jarang sekali orang yang menyewakan perahu.. Rasanya lemes banget pas tahu kenyataan ini (alah), lebih lemes lagi pas tahu sewa perahu motor PP Debut – Ngurtavur 700ribuan.. Semangat itu pas komunikasi dengan teman kerja yang kebetulan sedang pulang kampung ke Kei, Hendry Lestuni namanya. Putra daerah ini menawarkan untuk menemani Beta dengan motor untuk keliling Kei 2 hari ke-depan, oh.. dengan lantang Beta bilang Yess, Let’s get lost Hendri..hha..

GOA HAWANG, BUKIT MASBAIT, NGURBLOAT; PANTAI TERHALUS DI DUNIA

Karena batal ke Ngurtavur hari ini, kami akhirnya memilih ke Goa Hawang. Goa yang terkenal karena air’nya yang jernih dan berwarna biru berkilau ini berlokasi tidak jauh dari Desa Debut, sekitar 15 menit kayaknya. Untuk masuk ke Goa Hawang, pengunjung dikenakan biaya Rp. 5.000,- / orang. Karena ini bukan hari libur, sumpah.. ini Goa berasa serem banget (sekaligus eksotis..hhe..), secara kami hanya 2 orang di tempat ini. Serem karena Hawang sendiri berarti “Setan”. Menurut mitos, batu di tengah goa adalah orang yang dikutuk menjadi batu karena meminum air’nya dengan bersungut (sumpah serapah) karena rasanya yang asam. Nah lo.. Tapi asli, takjub dengan warna’nya yang biru bak batu kristal lengkap dengan stalaktit’nya yang spektakuler.. For me, this is magic, misty and also  instagrameble!!
Perjalanan menuju Goa Hawang dari Desa Debut

Ada beberapa anak tangga menurun menuju Goa Hawang

Air Biru Goa Hawang
Sebenarnya kualitas fotonya agak kabur sih,
hanya ingin menunjukkan ke teman-teman bahwa air di Goa Hawang cukup dalam

Puas berenang di Goa Hawang, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Ngurbloat (atau dikenal dengan Pantai Pasir Panjang); pantai dengan pasir halus’nya itu jangan sampai terlewatkan saat mengunjungi Kei ya.. oh iya, sebelum kami ke Ngurbloat kami mampir untuk mengunjungi Bukit Masbait. Bukit ini adalah salah satu lokasi untuk wisata religi umat Katolik, semacam napak tilas perjalan kesengsaraan Kristus. Di atas bukit ini, kita bisa melihat Kota Tual dengan gugusan pulau-pulau kecil di sekitarnya, menarik! Karena masih satu arah perjalanan, kami juga singgah di Pantai Ohoidertawun sebelum akhirnya sampai di Ngurbloat.
Dari atas bukit ini, kita dapat melihat kepulauan Kei dari ketinggian.
Bukit masbait bisa dikatakan salah satu titik tertinggi di Langgur.

Bukit Masbait disa dikatakan lokasi wisata religi bagi umat Katolik. 
Di tempat ini, kita akan melihat perjalanan spiritual Kristus saat disalibkan.

Nah, pantai di Kei sebenarnya saling berdekatan.
Pastikan melihat petunjuk arah dengan baik ya.
Masuk pintu gerbang Pantai Ngurbloat – Pasir Panjang, rasa penasaran semakin meningkat. Yess... finally... Untuk masuk ke kawasan pantai ini, dikenakan retribusi Rp.5.000,- / orang. Pas sampai dan menginjak pasir’nya itu..nyesss... lembut banget kayak tepung terigu.. kami menghabiskan banyak waktu untuk menikmati sore di pantai ini lengkap ditemani dengan suguhan Pisang Enbal dan Teh Anget.. Syuuurrggaaaa....hha.. Selama perjalanan Beta ke beberapa pelosok daerah, harus Beta akui, sunset dari Pantai Pasir Panjang memang juara’nya. Betah berlama-lama di tempat ini hingga tanpa terasa malam’pun menjelang sebelum kami memutuskan untuk pulang.
Pantai Ngurbloat yang masih asri dan teduh dengan vegetasi yang cukup padat
Pantai Ngurbloat adalah salah satu pantai dengan pasir terhalus di dunia. Bahkan sat kita berjalanpun, kaki kita akan mengendap dibuatnya. Sunnguh ciptaan Tuhan yang indah..

Beta dan Pantai Pasir Panjang (Ngurbloat)

Lengkapi santai soremu dengan satu porsi Pisang Embal tatkala menikmati indahnya Pantai Ngurbloat

Rekomendasi mengunjungi Ngurbloat (versi Beta) yakni pukul 16.00 - 19.00 WIT


DAY 2 - NGURTAVUR

Tetabuhan musik terdengar sayup-sayup dari kejauhan di Debut.. Aah.. kebetulan banget anak-anak SD N 1 Debut yang sedang latihan untuk tari penyambutan. Selepas meminta izin, Beta mendokumentasikan tari kas Kei tersebut, sangat seru dan menarik melihat keceriaan mereka..hhe...
Tari Panah Kei
Harus Beta akui, single traveller itu berat di ongkos untuk kebutuhan transportasi yang berhubungan dengan nyebrang menyeberang lautan bebas,, terkadang relasi dan kenalan sangat diperlukan dalam kondisi tertentu, termasuk dalam perjalanan kami menuju Ngurtavur pagi ini. Salah seorang kerabat Hendri adalah orang yang tinggal di daerah Ngurtavur, dan bersyukurnya kami mendapatkan perahu yang dikemudikan langsung dari tetua adat di daerah tersebut yang tidak lain adalah Ayah dari kerabat Hendri. Sebenarnya tanpa kenalan’pun kalian juga tetap bisa mengunjungi Ngurtavur dengan biaya sewa perahu yang disebutkan di atas ya. Pintar-pintar bawa diri untuk bisa berdiskusi mengenai harga sewa perahu motor, tentunya dengan harga wajar ya. Dengan begitu, kita secara tidak langsung akan membantu roda ekonomi masyarakat sekitar bukan.. Kami memang sengaja berangkat pagi interval pukul 09.00 WIT untuk menghindari gelombang laut. Selain itu, dengan berangkat pagi panas belum terlalu menyengat dan pastinya aktivitas foto-foto’pun menjadi lebih puass...
Sepanjang perjalanan kita akan melawati beberapa pulau kecil
 dengan pasir putih yang terlihat dari kejauhan

Tak kurang 40 menit dari Debut, nampak hamparan pasir putih di tengah lautan. Cahaya matahari yang menyilaukan menjernihkan air di tepian pasir hingga tampak sebening kristal.. juaraaa! Pas perahu hampir sanggah tak henti-henti’nya untuk terus mengucap syukur akhirnya menginjakan kaki di lepas pantai yang termasyur itu.
Pantai Ngurtavur dengan air sebening crystal dan panas terik yang menyengat..hhe..

Sudut lain Ngurtavur dengan pulau-pulau kecil disekelilingnya

Spechlessss dengan kejernihan air dan pantai pasir putihnya..

Karena nggak punya foto Ngurtavur  tampak atas, foto dari Bang Ahmad Hasanela (Instagram: @ahmad_hasanela) mungkin bisa mewakili bagaimana indahnya pantai ini

Seingat Beta, kami menghabiskan waktu berjam-jam di pantai ini sebelum kembali, lokasinya bikin betah memang. Saran saja, karena tidak ada sumber air dan makanan (saat Beta datang belum ada, semoga sekarang lebih tertata pengelolaannya) teman-teman bisa membawa makanan sendiri. Tapi jangan cuman makanan yang di bawa, jadilah traveller yang bertanggung jawab dengan membawa pulang kembali sampah kalian. Sekembali’nya ke Debut, kami memilih untuk mengunjungi Pantai Ngurbloat (lagi),, entah Beta mengapa betah untuk nongkrong berlama-lama di tempat ini. Kami memutuskan untuk berpisah di salah satu penginapan di Pelabuhan Tual,, dan bersiap untuk menjejakan kaki di Tanah Saumlaki bagaimana pengalaman Beta di Saumlaki,,,cek postingan berikut ya >>

Ucapan Terimakasih :
Ucapan terimakasih Beta sampaikan kepada Hendri Lestuni yang boleh menemani beta selama beberapa hari di  Tual dan Langgur. Ayah dari kerabat Hendri (aduh lupa nama Beliau, akan Beta update segera), terimakasih telah mengantarkan kami ke Bapa pung'e pante paleng eksotis di Kei..hhe.. Terimakasih juga Beta ucapkan untuk Bapak Miguel / Ibu Ratih atas informasi dan rekomendasi yang boleh disampaikan ke Beta.
Bersama Hendri dan Bapak yang mengantarkan kami ke Ngurtavur 

Catatan Jejakakibeta :

  1. Sewa mobil selama di Tual bisa menjadi alternatif jika teman-teman datang berombongan.
  2. Rental motor di Tual setahu Beta belum terlalu banyak, jika memang teman-teman adalah solo traveller, menggunakan angkot bisa jadi alternatif. Namun Anda harus menunggu cukup lama, karena lokasi tempat wisata yang masih pedesaan bisa jadi butuh waktu 1 jam lebih utuk menunggu angkot jalan. Tapi harganya sangat terjangkau, sekali jalan bisa Rp. 5.000,- sampai Rp. 10.000,-.
  3. Menggunakan ojek adalah pilihan terakhir. Jika perlu, kalian bisa sewa ojek (berikut sopirnya) seharian untuk mengantarkan ke beberapa destinasi *dengan negosiasi dan kesepakatan terlebih dahulu tentunya. Hal ini pernah beta terapkan saat menglilingi Ternate di Maluku Utara.
  4. Jangan lupa juga siapkan uang tunai yang cukup saat perjalanan. Karena wisata alam yang notabenya jauh dari anjungan tunai mandiri (ATM). 
  5. Siapkan powerbank
  6. Beberapa tempat di Kei masih kental dengan adat. Beberapa lokasi (yang dianggap keramat) mensakralkan penggunaan warna tertentu (contohnya baju warna merah). *Beta menggunakan baju warna merah di lokasi wisata yang sudah sangat ramai dikunjungi.
  7. Penginapan sudah sangat beragam di Kei (Tual dan Langgur), bahkan di sepanjang Pantai Pasir Panjang (Ngurbloat) banyak sekali ditemui penginapan dengan harga yang cukup bersahabat. Silahkan teman-teman googling untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.
  8. Siapkan makanan dan air yang cukup saat mengunjungi Ngurtavur. 
  9. Siapkan sun screen untuk melindungi kita dari panas'nya Kei yang direfleksikan dari pantainya yang putih bersih..hhe..
  10. Selalu menjadi traveller yang bertangung jawab, dengan hanya meninggalkan jejakaki, capture dokumentasi dan membawa / membuang sampah pada tempatnya.