Tampilkan postingan dengan label tual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tual. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 September 2021

Pulau Tam, Sentra Gerabah yang Hampir Punah

 

Pulau Tam? Ya, terdengar asing di telinga bukan, tidak hanya bagi orang awam, masyarakat Maluku'pun juga jarang mendengar daerah ini. Pulau Tam tergabung pada gugusan di kepulauan Kei, namun secara administratif masuk dalam wilayah Kota Tual.  Perjalanan ke Pulau Tam Beta mulai dari Ambon menggunakan Kapal Pelni. Oh iya, perlu teman-teman ketahui bahwa perjalanan kali ini Beta lakukan pada masa pandemi. Tentunya syarat-syarat kelengkapan kesehatan seperti Rapid Test Antigen, Kartu Kuning (Kartu Pemeriksaan kesehatan di Pelabuhan) serta Vaksinasi telah Beta lengkapi semua. 

Tiket berikut berkas Rapid Tes dan Kartu Kuning

Setibanya di Tual, Beta memilih menginap di penginapan yang berlokasi tidak jauh dari pelabuhan. Ini sangat memudahkan Beta untuk sewaktu-waktu untuk cek jadwal kapal di pelabuhan. Sebenarnya jadwal Kapal dari Tual ke Pulau Tam dilayani oleh Kapal Fery ASDP seminggu dua kali; yakni pada hari Kamis dan Sabtu. Namun karena alasan perbaikan, Kapal Fery tujuan Tam hanya dilayani pada hari Sabtu.

Penginapan Cahaya Tual menjadi andalan tiap kali Beta ke Tual
 (Bangunan tiga lantai dengan tembok berkeramik putih)

Selalu tekankan, ada harga ada fasilitas ya.
Salah satu tipe kamar yang Beta tempati di penginapan Cahaya.

Nah, karena jadwal tersebut, Beta kepikiran untuk menggunakan plan B. Beta kontak kolega untuk menjemput di Pulau Tayando pada hari Kamis, dengan harapan dapat pulang kembali ke Tual dengan kapal Fery pada hari Sabtunya. Namun rencana tersebut malah gagal total.

Nyasar dan Susah Sinyal

Kapal Fery Tanjung Madlahar sebagai andalan masyarakat
untuk bertransportasi ke pulau-pulau kecil di Kepulauan Kei

Kamis pagi Beta berangkat ke Pelabuhan Tual, dan kapal Fery berangkat pukul 09.00 WIT. Setelah 4 jam perjalanan kapal sempat singgah satu kali, sebelum melanjutkan perjalanan. Dua jam kemudian Beta tersadar, harusnya Tayando ditempuh 4 - 5 jam saja dari Tual. Namun ini sudah lewat 2 jam'an, belum tampak satupun daratan, Beta mulai panik. Sejurus kemudian Beta mulai tanya beberapa orang di kapal, namun jawaban belum memuaskan. Ternyata mereka taunya Beta Tujuan Tayando Yamtel, dimana tujuan tersebut akan disinggahi setelah transit di semua pelabuhan. Setelah bertemu dengan satu anak muda Tayando, Beta akhirnya tau kalau Beta nyasar.
Tempat duduk untuk kelas ekonomi

Tampak muatan dalam Kapal Fery

Susahnya sinyal di atas lautan menambah rasa bersalah Beta kepada kolega yang sudah siap menjemput Beta dari Tayando ke Tam.. Rasa-rasa ingin berenang saja.. Dan benar saja, setelah mendapat sinyal, Bapak Sabila (kolega kami) telah mencari Beta keliling pulau Tayando. Sungguh, sesuatu yang di luar rencana.
Kenapa Beta bisa "nyasar",, ternyata di Tayando dan beberapa pulau kecil di Kepulauan Kei, masih banyak yang belum memiliki dermaga / pelabuhan besar untuk kapal bersandar. Semua aktivitas berlangsung di tengah lautan. Bagi pendatang seperti Beta, bongkar muat orang di tengah laut adalah pengalaman baru. Bukannya tanya orang ini sudah sampai mana, Beta malah asik mendokumentasikan kegiatan tersebut. Yang ada di pikiran Beta adalah, kapal sampai ya ada pelabuhan..hhe.. That's it! lain ladang lain belalang memang, lain daerah lain juga keadaannya.. dan pikiran Beta tidak pada tempatnya saat itu dan tidak menyadari bahwa Beta sudah sampai tujuan. Akhirnya Beta harus menumpang kapal Fery tersebut selama 24 jam dan kembali ke Tual. Sungguh perjalanan yang melelahkan.
Material bangunan banyak ini sejatinya material untuk pembuatan masjid di Pulau Kaimer

Semua material diangkat manual dengan tangan. Dampaknya, tentu saja membutuhkan waktu berjam-jam untuk memindahkan'nya manual dari Kapal Fery ke Speed Boat

Bertemu dengan Para "Pelaku Budaya"

Rasanya belum tuntas tubuh ini me-recovery perjalanan nyasar satu hari yang lalu. Tapi, pagi ini (Sabtu) Beta kembali bergegas untuk mengejar kapal Fery dari Tual menuju Pulau Tam. Setelah menempuh kurang lebih 6 – 7 jam perjalanan, akhirnya Beta sampai tujuan. Selama di atas kapal, Beta berkenalan dengan beberapa penumpang lainnya. Sebagai bonus SKSD (Sok Kenal Sok Deket); Beta bersekempatan mendapat tumpangan speed gratis saat menyeberang menuju pessir pantai..hhe.. Selama di Pulau Tam, Beta tinggal di rumah salah satu kolega, yakni keluarga Mantreanubun. Tentu saja, tak lupa untuk melapor diri ke Bapak Sekretaris Desa setempat.

Speed Boat yang membawa penumpang dari Fery ke pesisir

Pulau Tam,  Desa Ngur Hir
Sebenarnya tujuan utama Beta datang ke Pulau Tam adalah untuk melihat langsung proses pembuatan kerajinan gerabahnya. Salah satu turis berkebangsaan asing pernah menuliskan pengalamannya menjelajah Kepulauan Kei melalui artikel online. Dari situlah Beta mendapatkan informasi tentang Pulau Tam. Jauh-jauh hari Beta sudah menghubungi keluarga Mantreanubun untuk memesan beberapa kerajinan tersebut. Memang, membuat Ub (Gerabah dalam Bahasa Setempat) atau dikenal dengan Tampayang / Guci Tempat Air tersebut membutuhkan proses yang tidak sebentar. Dari proses pengulenan bahan dasar tanah liat, pembentukkan, pengeringan dan pewarnaan membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu; sebelum berakhir pada proses pembakaran. 

Perlengkapan Mama Siti Hajar saat membuat gerabah. Yang membuat gerabah ini khas adalah pewarna alamnya (perhatikan batu warna merah). Batu yang biasa disebut dengan Wat Mas ini memmberikan hasil warna yang khas dan ethnik.

Gerabah Ub (Tempat Air) yang tebuat dari komposisi Tanah Liat dengan campuran sedikit pasir halus, diuleni sampai kalis; kemudian dibentuk dan dianginkan selama dua minggu

Salah satu pengrajin gerabah yang Beta temui adalah Mama Siti Hajar. Walaupun usianya sudah senja dan tidak lancar Berbahasa Indonesia (masih menggunakan bahasa daerah), senyum dan semangatnya sebagai perajin gerabah masih dapat Beta rasakan. Selain Siti Hajar, Beta juga berkesempatan bertemu dengan Siti Johora, Sarinah, dan Mama Widat. Tentu saja, mereka adalah generasi terakhir pengrajin gerabah di pulau ini, yang kemudian Beta lebih senang menyebut mereka sebagai pelaku budaya. Gerabah yang mereka buat dahulunya berfungsi sebagai tempat air, tempat memasak obat, dll. Namun, fungsi tersebut kini telah tergantikan dengan perlengkapan yang lebih tahan lama / modern seperti berbahan plastik maupun stenless stell. Beberapa diantaranya mencoba berinovasi dengan membuat vas dan pot bunga sesuai pesanan. 

Mama Siti Hajar dengan gerabah Ub karyanya

Mama Siti Johora sangat senang saat Beta membeli gerabahnya.. 

Mama Sarinah membuat asbak dan juga mainan anak-anak berbentuk ayam

Mama Widat berkesempatan menunjukkan sekuruh karyanya.
Bahkan Mama Widat masih membuat gentong ukuran besar untuk tempat air lo.. 

Saat Beta bertanya ke salah seorang anak perajin, mereka menjawab tidak bisa membuat kerajinan ini. Beberapa hal yang membuat kerajinan ini tidak ter-regenerasi adalah kurangnya peminat (pembeli). Karena fungsinya sudah tergantikan dengan perlengkapan yang lebih modern, permintaan sebenarnya ada, namun tidak banyak. Rata-rata masih didominasi oleh kolega maupun instansi terkait sebagai barang kenangan, media promosi pariwisata dan pajangan.  Harga satu Ub biasanya dijual mulai dari puluhan ribu (ukuran sedang) sampai 100ribu'an (untuk ukuran besar). Karena dikerjakan disela waktu luang, kerajinan ini dilihat sebagai barang yang kurang memiliki nilai ekonomis lagi. Padahal gerabah ini sebenarnya memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Jika tidak ada regenerasi, sangat dikhawatirkan jika nantinya akan berakhir menjadi benda pajangan penanda zaman di museum. Sungguh sangat disayangkan memang, problema yang sama saat Beta berkunjung ke salah satu sentra gerabah lain di Desa Banda Eli; Pulau Kei Besar. Oh iya, sebagai apresiasi, Beta sempat membeli beberapa hasil karya mereka. Senyum simpul'pun merekah; pengrajin senang, pembeli'pin juga senang.. semuanya senang.. hhe

Salah satu inovasi Mama Siti Hajar; membuat pot dan vas bunga

Setelah melihat proses pembuatan gerabah, dan bertemu dengan para “Pelaku Budaya”, tidak banyak akhtivitas yang Beta lakukan di Pulau Tam. Sebenarnya ada Goa tempat masyarakat mengambil air di pulau ini, tapi… panasnya Pulau Tam di siang hari adalah waktu yang pas untuk “balas dendam” istirahat yang belum terlampiaskan karena nyasar kemarin..hhe..

Pulang ke Tual dan bertolak ke Ambon

Inget saat Beta SKSD dengan penumpang lain saat perjalanan ke Pulau Tam di atas Kapal Fery? Nah.. Saat itu Beta berkenalan dengan salah satu Kaka’ bernama  Dino. Kaka’ Dino dan beberapa rekannya kebetulan sedang bertugas untuk pendataan perumahan penduduk. Setelah saling berkabar dan satu lain hal, kami sepakat untuk pulang ke Tual dengan menggunakan speed boat dari masyarakat Senin pagi. Setelah berpamitan kepada keluarga (yang bisa dibilang cukup tergesa-gesa), kami bertolak ke Tual.  Saat di tengah perjalanan, kami sempat bertukar speed dan singgah di Pulau Nunya’i. Ya, pulau panjang berpasir putih ini sempat beta lihat dari kejauhan saat perjalanan di kapal Fery kemarin dan ternyata memang eksotisnya luar biasa! Karena memang masih asli dan jarang dikunjungi juga ya..hhe..
Pulau Nunya'i, dapat ditempuh dengan speed boat dari Tual selama tiga jam

Setelah perjalanan tiga jam (dengan basah kuyup selama perjalanan) kami akhirnya sampai Tual. Sesampainya di Tual, Beta berpisah dengan Kaka’ Dino, dan secepat kilat langsung melakukan rapid tes, membeli tiket kembali ke Ambon sekaligus packing.. Sungguh perjalanan kali ini bisa disebut marathon trip..hhe..

Demikian perjalan  Beta, semoga dapat menginspirasi teman-teman untuk berkunjung juga ke Kepulauan Kei khususnya Pulau Tam. Beta sudah tiga kali ke Kepualau Kei dan selalu saja alasan untuk kembali dan kembali lagi.. Wait for me (again) Kei..

Ucapan Terimakasih



1. Tuhan YME
2. Sdra. Jalal Mantreanubun atas segala informasi dan bantuannya untuk menghubungi kolega'nya di Pulau Tam
3. Bapak Soleman Masahida (Bapak Sabila), Kaka' Abdul Jabar Elwahan (Jabar) dan seluruh keluarga di Pulau Tam yang telah bersedia membukakan pintunya untuk Beta singgah selama berada di Pulau Tam
4. Bapak Sekretaris Desa, Para "Pelaku Budaya " pengrajin gerabah dan semua masyarakat Pulau Tam, khususnya di Desa Ngur Hir
5. Bung Nurcholis Effendy; yang bersedia membantu untuk mencarikan tiket dari Ambon ke Tual
6. Sdra. Dino, Hendri Aldryn Lestuny, Jeery Alfons, dan beberapa teman-teman yang saya hubungi (dan bersedia membantu) untuk memperlancar misi perjalanan saya ini

Yuk, intip video perjalanan Beta :




Estimasi Biaya Perjalanan


Tiket Ambon - Tual (Kapal Pelni): Rp.290.000 / Orang (tipe tempat tidur ekonomi)

Jadwal dan pemesanan bisa cek di : www.pelni.co.id

Atau datang langsung di Travel Agen di sekitar pelabuhan

*Jadwal dapat berubahsewaktu – waktu

Tiket Kapal Fery (Bahtera Nusantara)

- Rp. 300.000 / Orang (untuk tipe tempat duduk)

- Rp. 400.000 / Orang (untuk tipe tempat tidur)

Kontak / Pemesanan :

Agen Cabang Ambon :

Jl. Wem Reawaru No. 29 B (Belakang Kantor Gubernur Maluku)

Kontak : 081247100053 

Agen Cabang Tual :

Jl. Pattimura - Tual

Kontak : 085242230412 

Jadwal :

Ambon – Tual : Kamis

Tual – Ambon : Sabtu

*Jadwal dapat berubahsewaktu – waktu

Tiket Fery Tual – Pulau Tam :

Rp. 45.000 / Orang (untuk tipe tempat duduk ekonomi)

Datang langsung di loket pelabuhan satu jam sebelum kapal berangkat

Jadwal :

Tual – Tayando – Tam : Kamis & Sabtu : 08.00 WIT

Tam - Tayando - Tual : Kamis & Sabtu : 14.00 WIT

*Jadwal dapat berubah sewaktu - waktu

Sewa Speed dari Tam menuju Tual : Rp. 200.000 / Orang (tergantung kondisi / jumlah penumpang)

Penginapan di Tual :

Penginapan Cahaya di Tual mulai dari : Rp. 150.000 / Hari *Twin share untuk 2 orang


Minggu, 10 Juni 2018

Jejakaki Tanah Kei #2 Desa Budaya Banda Eli


          
          Menjejakan kaki ke daerah yang belum menjadi destinasi wisata bukanlah perkara yang mudah. Entah angin apa yang membawa Beta ke tempat ini (sepertinya angin Timur,hhe..) Saat itu Beta cuman berfikir; sisa liburan 1 minggu ini harus penuh dengan petualangan. Semacam gayung bersambut, tiba-tiba di minggu yang sama jadwal kapal tujuan Tual / Kei sandar di pelabuhan Yos Sudarso, Ambon. Nah pertanyaannya, mau ke mana saat ke Kei nanti? Secara, ini adalah kali ke dua bagi Beta, menjelajah kepulauan yang hampir seluruh pantainya dianugrahi dengan jajaran pasir putih. Google mengantarkan Beta ke sebuah blog yang berisikan banyak sekali destinasi tersembunyi di wilayah Indonesia timur, khususnya Maluku (silahkan cek :  www.east-indonesia.info). Oke, tahun ini harus ke Kei Besar, jelajah budaya Banda Eli dan Air Terjun Hoko yang termasyur dan instagramable itu..berangkaat..!!


Ambon – Banda Neira - Tual


           Setelah mengumpulkan segala informasi mengenai akses perjalanan menuju Kei Besar - Banda Eli dan Air Terjun Hoko dari beberapa rekan dan kerabat, akirnya Beta segera memesan tiket kapal dengan tujuan Ambon –Tual. Dengan harga Rp. 275rb rupiah, perjalanan Ambon ke Tual akan membelah Laut Banda selama kurang lebih 24 jam, dan dijadwalkan akan singgah / transit di Banda Neira selama dua jam. Nah, momen singgah ini pas banget untuk silaturahim dengan salah satu rekan yang tinggal di Neira, mengisi perut kosong dan kesempatan swafoto di beberapa lokasi bersejarah di sana. Maklum’lah, 24 jam bukan waktu yang sebentar untuk gelesotan di geladak kapal..hhe.. Untuk pemesanan dan cek jadwal kapal pelni, basudara dapat cek di www.pelni.co.id.
Sembako persiapan bulan Ramadhan & Idul Fitri, semuanya tumplek blek di atas Kapal Nggapulu
Swafoto di Banda Neira..

Udah ngidam dari 2 tahun yang lalu (pas pertama kali ke Banda), akhirnya kesampaian; 
Pancake Selai Pala Kenari & segelas Jus Sirsak.. mantab!
Selamat pagi Tual... Jika di lihat pada kalender masehi, seharusnya hari ini (15/5/18) adalah puasa hari pertama. Namun harus disyukuri sampai kaki ini meninggalkan jejak di negeri pasir putih tanah Kei, sidang isbat’pun belum memutuskan puasa akan dimulai pada hari apa. Pastinya bakalan banyak warung makan yang tutup dan aktivitas masyarakat yang tidak sesibuk biasanya selama Bulan Ramadhan.
Ada Ibu dan anak'nya nggak sengaja terfoto pas di pelabuhan,, 
see the bear, what a lovely moment.. :)

Sesuai dengan instruksi yang sampaikan oleh salah satu rekan, saat tiba di Tual Beta harus silaturahim serta izin dengan Bpk. Raja Banda Eli; Bpk. Haji Al Mudin. Tentunya Beta harus menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan di desa budaya tersebut.  Nah lo,,ini penting dan wajib banget! Dimana bumi di pijak, disitulah langit harus kita junjung. Yaiyalah, mau bertamu ke rumah saja harus izin dulu..apalagi mau masuk daerah yang belum kita kenal sebelumnya. Kabar baiknya Beta mendapatkan restu dari Bapak Raja untuk berkunjung ke Banda Eli.. Aaaah, lega..Sharing panjang lebar tentang sejarah, budaya dan adat - istiadat, Beta berkesempatan diberi izin untuk melihat lebih dekat ornamen perahu kora - kora khas Banda Eli yang kebetulan di simpan di rumah Beliau. Menariknya, ornamen ini akan dipasang kembali ke perahu kora - kora jika ada festival budaya ataupun acara adat tertentu. Izin sudah Beta terima, selanjutnya adalah memikirkan bagaimana untuk menyeberang dari Tual menuju Pulau Kei Besar esok hari. Untuk malam ini, Beta memutuskan untuk menginap di penginapan Cahaya yang berlokasi tidak jauh dari pasar Kota Tual.
Hiasan & ornamen perahu kora-kora khas Banda Eli berbentuk naga, 
hiasan ini di simpan di kediaman Bpk. Raja di Tual
Suasana Kota Tual saat senja *dilihat dari balkon tempat Beta menginap





















Perjalanan Ekstrem untuk Wisata Anti Mainstream!


             Mungkin namanya tidak setenar dengan Banda Neira di Maluku Tengah. Namun jangan salah, justru di Banda Eli inilah kepingan sejarah Banda Neira dapat kita temukan. Hmm.. Jadi ingat film layar lebar “Banda, The Dark Forgotten Trail”, sebuah film dokumenter karya Dimas Djay yang sempat mendapat “protes” akhir tahun 2017 lalu. Film tersebut terselip kutipan bahwa; masyarakat Banda Neira dihabisi oleh VOC saat monopoli rempah-rempah tanpa sisa. Kenyataan masyarakat keturunan asli Banda Neira yang sempat melarikan diri dan mengungsi saat ini masih dapat kita temukan.. ya di sini, di Banda Eli.
Arsip : lifelikepictures.co




















Untuk menuju Desa Banda Eli ada dua alternatif. Pertama basudara dapat menggunakan kapal speed dari pelabuhan besar Tual yang melayani rute Tual – Banda Eli langsung dengan tarif Rp. 150rb / orang. Perjalanan tersebut memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan kondisi laut yang normal. Kapal Fery Tual – Banda Eli sebenarnya juga tersedia, kalau tidak salah setiap hari Rabu dan Jum’at, untuk tarifnya maaf ya Beta kurang tahu..hhe.. mungkin nanti jika sudah tahu Beta akan segera update ya. Untuk alternatif terakhir inilah yang Beta gunakan, yakni menyeberang dari Pelabuhan Watdek di Langgur menuju Elat di Pulau Kei Besar dengan menggunakan kapal cepat dengan tarif Rp. 50rb / orang. Kapal berangkat setiap hari pukul 09.00 WIT ya, awas jangan telat! Perjalanan melalui kapal cepat ini dapat ditempuh 1,5 jam dengan kondisi laut yang kurang bersahabat. 
Harga tiket Tual (Watdek) - Elat; Rp. 50rb / orang


























Tiket di jual on the spot di pelabuhan


























Pelabuhan Watdek



























Kapal Cepat Cantika Inova



























Setelah menyeberang dari Watdek menuju Elat di Pulau Kei Besar, langkah selanjutnya adalah menggunakan moda transportasi ojek menuju Banda Eli. Ojek? Yess, FYI kendaraan roda empat belum memungkinkan untuk menuju desa yang berada di pesisir tenggara Pulau Kei Besar ini. Kenapa? Biar foto-foto Beta yang menjawab ya..hhe.. Hasil tawar menawar dengan abang ojek, dari Rp. 400rb untuk sekali jalan jadi Rp. 250rb sekali jalan. Masih tawar menawar lagi dengan alot akhirnya deal dengan harga Rp. 200rb (Tapi akhirnya Beta bayar 250rb yang alasannya akan Beta jelaskan di bawah). Ojek dari Elat menuju Banda Eli dapat ditempuh selama 2 - 3 jam perjalanan dengan medan tempur yang menurut Beta cukup menantang. Nah, di perjalanan inilah pertanyaan Beta terjawab, kenapa ojek sangat mahal dan belum adanya kendaraan roda empat yang bisa menembus kampung. Beberapa bagian jalan di yang berada di tengah hutan rusak parah! Prihatin, pasti! Lagi-lagi akses jalan yang tidak baik dapat memutuskan roda ekonomi dan pendidikan masyarakat. “Semoga di kampung sebelah tidak hujan ya, kalau hujan akan agak susah perjalanan kita”, ucap Bang Ongen, ojek yang mengantarkan Beta menuju Banda Eli. Di sepanjang perjalanan Beta cuman bisa berharap dan berdoa, pleasee.. jangan hujan dan berilah cuaca yang cerah sepanjang perjalan. Doa anak soleh dijawab, dan cuaca yang cukup cerah (teriring mendung) mengantarkan Beta sampai di Banda Eli dengan selamat.
Selamat datang di Elat



















Deretan ojek motor GL Pro menunggu'mu Broo...


























Perjalanan menembus pesisir pantai Kei Besar
Perjalanan membelah hutan


























Jalur alternatif karena jembatan rusak. Bisa kebayang nggak kalau hujan bagaimana nasib kalian?


























Sungai ini sebenarnya jernih dan luas, sumber air di Kei Besar cukup melimpah


Selamat mingkana hua vunuo Eli


        Setibanya di Banda Eli, Beta langsung meminta Bang Ongen untuk mengantarkan Beta ke rumah Bapak Raja Banda Eli (Purnawirawan), Bpk. Haji Raja Langsung Latar. Sebelum purna tugas, Beliau adalah Raja Banda Eli. Saat ini jabatan Beliau di gantikan oleh adik’nya, Bpk. Haji Al Mudin yang sempat Beta kunjungi di Tual. Walaupun sudah berusia 70 tahunan, Beliau tampak masih sehat dan semangat sekali jika ada tamu yang datang untuk melakukan pengamatan / penelitian di desa’nya. Hari ini adalah hari pertama puasa Ramadhan bagi masyarakat Banda Eli dan mungkin juga beberapa daerah di Indonesia. Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat (khususnya Raja) untuk tidak beraktivitas di luar rumah tiga hari puasa pertama Ramadhan. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan, Beta izin untuk tinggal dan menginap. Yang pasti Beta di terima dengan baik oleh keluarga Bapak Raja beserta keluarga.
Gegara foto-foto dokumentasi banyak yang hilang, inilah suasana Desa Banda Eli
(Image by : Google.com)

Istirahat bentar, langsung izin Bapak Raja untuk mengunjungi beberapa tempat yang membuat kerajinan gerabah. Beta diarahkan untuk mengunjungi rumah Ibu Hjh.Boki Wandan. Beliau adalah salah satu pengrajin Umbo / Umba khas Banda Eli. Sayang sekali Beta belum bisa melihat langsung proses pembuatan Umbo ini secara langsung, namun Beta mendapatkan informasi mengenai material dan sejarah kerajinan gerabah yang sudah jarang dibuat ini dari Beliau. Pewarnaan Umbo masih menggunakan bahan / material tradisional yang pada dasarnya berwana merah bata dan putih kapur. Pewarna merah menggunakan Batu Tinggao, sementara warna putih menggunakan sari pati batuan kapur di lingkungan sekitar yang disebut Batu Wailyaro. Bahan utama pembuatan Umbo ini adalah tanah liat dicampur dengan pasir halus hingga kalis, diangin-anginkan, kemudian di bakar. Total proses pembuatan Umbo ini bisa sampai 1 bulan loh.. tergantung besar / kecil ukurannya. 
Umba / Tampayang. Barang yang satu ini sudah langka banget, sempat lihat di Museum Siwalima Ambon. Harga kerajinan gerabah ini mungkin tidak seberapa, namun lebih dari itu, Beta melihat pengrajin Umba sebagai pelaku budaya.


























Karena mayoritas masyarakat Banda Eli akan berbuka puasa serta melanjutkan shalat tarawih, Beta memohon izin untuk pamit dari rumah Ibu Boki. Setibanya di rumah, Beta turut serta berbuka puasa dengan keluarga Bapak Raja. Ada momen menarik saat kami bercengkrama bersama Bapak Raja, Beliau menawarkan untuk mengundang saudara’nya yang kebetulan pengrajin emas kawin khas Banda Eli. Wah, menarik, tanpa berpikir panjang Beta’pun mengiyakan. Beliau beserta saudara’nya bercerita tentang penting’nya “emas kawin” ini, baik di masyarakat Banda Eli sendiri maupun di Kepulauan Kei pada umumnya. Emas Banda Eli terbuat bukan dari logam mulia “emas”, namun Emas Bada Eli dibuat dari perak dan kuningan. Rata-rata dibuat dalam bentuk gelang tangan, hiasan telinga, dan juga dibuat menyerupai meriam Belanda & Portugis. Emas ini digunakan sebagai mahar saat pihak laki-laki kepada keluarga perempuan dan tentu saja, jumlah’nya sesuai dengan permintaan keluarga ya. Jika satu buah emas Banda Eli saja dihargai mulai dari Rp. 500rb rupiah, berarti harus mengeluarkan Rp. 5Jt rupiah jika pihak keluarga berkenan untuk meminta 10 gelas emas kawin..hhe.. lumayan lah.. 
Emas Banda Eli, dari gelang, anting, dan beberapa barang yang dibuat menyerupai meriam
sebagai emas kawin
Mulutmu, Harimau’mu... Pepatah ini memang bener banget dan berlaku di desa ini! Jangan sembarangan sesumbar menyakiti orang secara fisik dan emosional loh ya, bisa-bisa basudara harus membayar emas adat ini kepada orang / keluarga yang tidak terima karena ucapan dan tindakan kalian. Karena sangsinya berat Bro, kita harus memberikan jaminan berupa emas kawin tersebut yang nilai’nya bisa sampai jutaan rupiah. Menjadi “benda konsekuensi / benda tebusan” simbolisasi permintaan maaf dari apa yang sudah kita perbuat. Hmmm.. sepertinya bisa menjadi efek jera kan ya..hha.. Nah..jika suatu saat nanti anak / cucu dari keluarga tersebut juga melakukan kesalahan kepada salah satu anggota keluarga kita, emas kawin sebagai barang jaminan tersebut bisa kita minta kembali sebagai tebusannya. Menurut Beta fair play sih..hhe.. Oh iya, Bapak Raja Langsung Latar menyarankan Beta untuk membeli emas kawin tersebut sebagai kenang-kenangan “Adek Andri kan sudah jauh-jauh datang kemari, tidak ada salah’nya jika membeli emas ini sebagai bukti sebagai tanda mata bahwa sudah sampai Banda Eli”. Ada benarnya juga sih..hhe., karena harganya yang tidak murah dan setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya Beta memutuskan untuk membeli emas tersebut. Kabar baiknya Beta mendapatkan harga spesial malam itu..bungkusss!! Jika bukan karena listrik di kampung ini yang belum terjangkau, mungkin diskusi dan pembicaraan kami bisa berlanjut sampai larut malam ya. Sebagian besar masyarakat Banda Eli masih bergantung dengan Genset pribadi untuk penerangan rumah. Beta mohon bagi pejabat terkait; khususnya PU Balai Jalan, PLN, Kementrian Perhubungan serta Bapak Bupati Maluku Tenggara yang nantinya terpilih (sampai tulisan ini di terbitkan, satu bulan ke depan adalah pemilukada bagi Provinsi Maluku), mohon diperhatikan akses jalan kabupaten dan listrik bagi basudara kita khususnya yang berada di Pulau Kei Besar secara khusus yang berada di sepanjang Elat menuju Banda Eli. #Peringatan_Keras >_<

Banda Eli – Hoko – Elat


         Pagi ini bersiap untuk kembali ke Tual, packing dan saatnya berpamitan kepada Bapak Raja. Dua hari satu malam di Banda Eli adalah waktu yang mepert banget. Jika saja Beta datang pas bukan momen bulan Ramadhan, mungkin Beta bisa extend di sini beberapa hari kedepan. Banyak sekali destinasi alam yang masih asli yang bisa di explore khusunya Air Terjun’nya yang juara. Sebelum pulang, rasanya masih penasaran dengan umba yang dikerjakan oleh orang-orang di Desa ini. Akhirnya Beta diarahkan untuk ke rumah Ibu Arahmah Wah..wah, Dewi Fortuna lagi berpihak kepada Beta, ternyata Umba di rumah ini ready stock. Beta sangat merekomendasikan untuk membeli di Ibu Arahmah jika datang ke Banda Eli. Beta juga sempat berkunjung ke museum mini yang biasa disebut Purawisata oleh masyarakat desa. Disini terdapat beberapa kerajinan yang sengaja di pajang untuk dipamerkan kepada pengunjung sepeti Beta, namun sayang sepertinya kurang “dirawat”. Ayolah..anak-anak muda Banda Eli harus bahu membahu untuk menjadikan bangunan ini berdaya guna ya. (Maaf...dokumentasi foto hilang, sedang di cari solusi untuk mengembalikannya)
        Cuaca siang itu sangat mengkhawatirkan, pamitan dengan Bapak Raja sampai-sampai lupa untuk berswafoto bersama... :’( Beta sudah tahu medan yang akan di hadapi di depan seperti apa, tidak ada jalan lain selain jalan yang sama saat berangkat dari Elat kemarin. Saat itu Beta sempat berpesan dengan Bang Ongen, jalan pelan saja yang penting selamat sampai tujuan. Sepertinya waktu juga tidak memungkinkan untuk mengejar kapal kembali ke Tual. Sekitar 45 menit dari Banda Eli, Beta tiba di Air Terjun Hoko. Entah ini bisa di bilang beruntung atau tidak, yang jelas waktu Beta datang suasana air terjun sangat sepi dari pengunjung. Sepi? Bukannya seneng tapi malah takut dengan suasana yang spooky, sempat ragu untuk foto di air terjun yang instagramable itu..jhahaha... Tapi aseli deh, walaupun berada di sisi jalan, Air Terjun Hoko masih sangat natural. Airnya yang jernih dengan warna biru tosca membuat siapapun tergoda untuk segera membasahi diri. Bang Ongen meyakinkan Beta untuk mendokumentasikan diri. Finally.... 
Wohoo... Air Terjun Hoko..!
      Akhirnya sampai dengan selamat di Elat, Beta memberikan jasa ojek full Rp. 250rb karena Beta sadar, ojek dengan jalan demikian sangatlah setengah mati dengan konsekuensi yang ada. Setelah mengucapkan terimakasih dan berpamitan dengan Bang Ongen, Beta segera menuju pelabuhan, sesuai dugaan, kapal cepat menuju Tual sudah berangkat. Aah... terlambat! Segera memikirkan alternatif tempat tinggal. Setelah bertanya dengan penduduk sekitar, akhirnya Beta memilih untuk menginap di salah satu penginapan dengan harga yang cukup bersahabat di kantong; Rp. 100rb / malam. Ok, malam ini aman, tidak jadi terlantar..hha..
Foto ini diambil dari tempat Beta menginap. Lupa foto penginapan dari depan, kalau lihat masjid ini pastinya kalian sudah dekat dengan penginapan dimana Beta menginap

Keesokan harinya kapal menuju Watdek di Langgur sudah stand by sesuai jadwal, jam 09.00 WIT. Dengan harga tiket yang sama, akhirnya Beta tiba di Langgur dengan selamat. Danke Banyak Banda Eli, sampai bakudapa di lain kesempatan lai.. 

UCAPAN TERIMAKASIH KEPADA :
1. Raja Banda Ely; Bpk. Haji Al Mudin beserta keluarga di Tual
2. Keluarga Besar Raja Banda Ely (Purnawirawan) Bpk. Haji Langsung Latar; Abang Ari, Ade’ Emang dan beberapa kenalan yang tidak bisa disebutkan satu per-satu
3. Jujaro Mungare Nuhu Evav atas segala informasi serta bantuannya ; Kakak Erna Salamoen,      Hendry Aldryn Lestuni, Hasan Kafyan Suat, Jalal Manteanubun, Yolanda Y. Anggraeni Ur
4. Ibu. Arahmah –Pengrajin Umba / Suram Belanga Banda Ely
5. Abang Ongen (Ojek Elat – Banda Eli PP)

FJI; FOR JEJAKERS INFORMATION
1. Dengan tarif Rp. 250rb sekali jalan dari Elat menuju Banda Eli, please..jangan di tawar! Dengan medan perjalanan yang cukup menantang, harga tersebut Beta rasa memang sudah sepantasnya melihat resiko yang harus diambil oleh Abang Ojek ++ motornya.
2. Jika teman-teman tertarik untuk mengunjungi Air Terjun Hoko, Air Terjun ini terletak di Desa Hoko. Satu arah perjalanan menuju Banda Eli. Perjalanan dari Elat ke Air Terjun Hoko kurang lebih 1 jam (tergantung cuaca) dengan tarif sekali jalan Rp. 150rb / orang.
3. Air Terjun Hoko terletak di pinggir desa Hoko, sangat strategis di pinggir jalan utama desa. Jika basudara datang berombongan, alangkah baiknya izin kepada masyarakat sekitar. Selain untuk menjaga etika, hal tersebut juga mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
4. Setahu Beta, ada dua penginapan di Elat. Salah satu penginapan yang menjadi tempat Beta singgahi adalah Penginapan M. Nohi. Tarif menginap mulai dari Rp. 100rb / malam / orang.
5. Penginapan Cahaya bisa menjadi alternatif minimalis modalis..hhe.. Terletak di Kota Tual, tarif menginap di penginapan ini muali dari Rp. 100rb / malam / orang.
6. Pastikan memiliki uang cash yang cukup jika menjelajah ke suatu daerah yang masih minim fasilitas publik.
7. Pastikan juga untuk memiliki libur / cuti yang panjang, karena kondisi alam dan budaya setempat; bisa jadi itenarary anda meleset dari jadwal yang sudah dibuat karena tidak ada kapal / tertinggal kapal sepeti yang Beta alami.
8. Hampir sepanjang pesisir pantai tenggara Kei Besar belum teraliri listrik. Bawalah powerbank jika tidak mau kehilangan momen berharga saat menemukan spot yang bagus dan alami karena gadget mati karena low batre.


Senin, 17 April 2017

Jejakaki Tanah Kei #1





JEJAKAKI TANAH KEI #1
*Sebenarnya perjalanan kali ini tidak hanya ke Kei saja, libur panjang selama 1 minggu Beta habiskan untuk lanjut eksplorasi di dua kabupaten di Provinsi Maluku,(Kab. Maluku Tenggara & Kab. Kep. Tanimbar) So.. cerita kali ini Beta akan jadikan 2 sesi ya, Jejakaki Tanah Kei dan Saumlaki.. Enjoy..

Kei? Jujur, Beta baru tau nama kepulauan yang secara administratif terletak di Kab. Maluku Tenggara ini saat tinggal dan bekerja di Ambon. Banyak’nya postingan kece di instagram adalah salah satu alasan Beta “ngebet banget” buat menjejakan kaki di kepulauan yang dianugrahi salah satu pantai dengan pasir putih terhalus di dunia. Dan Beta harus bilang WOOow....
Terdapat 2 alternatif untuk menuju ke kepulauan eksotis ini, yakni melalui kapal laut dan pesawat udara. Silahkan cek www.pelni.co.id untuk rute kapal Pelni dari Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon ke Tual dan  laman Traveloka, Tiket.com (dll) untuk cek jadwal penerbangan dari Bandara Pattimura, Ambon ke Langgur – Kei. Karena memang sudah mempersiapkan budget untuk trip kali ini, Beta memilih untuk menggunakan pesawat udara menuju Langgur dengan tiket 700rb’an untuk sekali jalan.
Selamat datang di bandara Karel Sadsuitubun - Langgur

Aaah... akhirnya, setelah hampir satu jam perjalanan sampai juga di bandara Langgur. Nyesel itu adalah kelewat untuk ambil foto sesaat sebelum landing tadi.. asli, pemandangan dari atas pesawat keren banget. Oh iya, dalam perjalanan kali ini Beta menginap di salah satu kolega. Semacam ada jemputan dan tempat tinggal, lumayan lah bisa hemat pengeluaran satu malam..hhe.. Dari Bandara nggak langsung ke rumah, sempat mampir di salah satu tempat yang berisikan diorama perjalanan datangnya misionaris katolik di kepulauan ini. Karena sore ini Beta di sambut dengan hujan, Beta memilih untuk istirahat dan mempersiapkan itenerary perjalanan esok hari.
Sejarah 100 th kedatangan Katolik di Maluku
Hujan setibanya di Kota Tual (nampak saat melintasi jembatan Watdek)


PERJALANAN YANG TERTUNDA

Semangat untuk menjelajah Kei.. Pagi ini di sambut dengan cuaca cerah, yess.. niat Beta untuk eksplorasi Kei di restui oleh-Nya.
Pemandangan dari tempat Beta menginap dan tinggal selama di Kei

Mumpung cerah, niat 110% untuk menuju Pantai Ngurtavur... itu lo.. pantai pasir putih yang panjangnya 2 km di tengah lautan. Untuk ke Pantai ini (lebih tepatnya sih Pulau kali ya), dari Tual kalian dapat naik angkot menuju Terminal Langgur (tarif Rp. 3.000,-), kemudian lanjut dengan menggunakan angkot menuju Ohoi (Desa) Debut. Naaah... seni’nya naik angkot di sini nih, Beta harus menunggu selama 1,5 jam sampai orang di dalam angkot ini penuh.. Padahal dari Terminal Langgur ke Debut cuman sebentar saja, sekitar 40 menit’an kalau nggak salah..hha.. Tarif angkot dari Terminal / Pasar Langgur ke Debut Rp. 10.000,-. 
Terminal & Pasar Langgur (Langgur sudah masuk wilayah Kab. Maluku Tenggara)
Dalam angkot penuh dengan belanjaan warga desa.. seru..hhe..
Nah, Gereja inilah yang menandakan kita sudah sampai Pelabuhan Debut

Dari pelabuhan Debut inilah akses ke Ngurtafur
dan beberapa pulau kecil seperti Tanimbar Kei

Pelabuhan Debut yang sudah sepi :(
Yaelah, gegara nunggu angkot lama, udah siang gini jarang sekali orang yang menyewakan perahu.. Rasanya lemes banget pas tahu kenyataan ini (alah), lebih lemes lagi pas tahu sewa perahu motor PP Debut – Ngurtavur 700ribuan.. Semangat itu pas komunikasi dengan teman kerja yang kebetulan sedang pulang kampung ke Kei, Hendry Lestuni namanya. Putra daerah ini menawarkan untuk menemani Beta dengan motor untuk keliling Kei 2 hari ke-depan, oh.. dengan lantang Beta bilang Yess, Let’s get lost Hendri..hha..

GOA HAWANG, BUKIT MASBAIT, NGURBLOAT; PANTAI TERHALUS DI DUNIA

Karena batal ke Ngurtavur hari ini, kami akhirnya memilih ke Goa Hawang. Goa yang terkenal karena air’nya yang jernih dan berwarna biru berkilau ini berlokasi tidak jauh dari Desa Debut, sekitar 15 menit kayaknya. Untuk masuk ke Goa Hawang, pengunjung dikenakan biaya Rp. 5.000,- / orang. Karena ini bukan hari libur, sumpah.. ini Goa berasa serem banget (sekaligus eksotis..hhe..), secara kami hanya 2 orang di tempat ini. Serem karena Hawang sendiri berarti “Setan”. Menurut mitos, batu di tengah goa adalah orang yang dikutuk menjadi batu karena meminum air’nya dengan bersungut (sumpah serapah) karena rasanya yang asam. Nah lo.. Tapi asli, takjub dengan warna’nya yang biru bak batu kristal lengkap dengan stalaktit’nya yang spektakuler.. For me, this is magic, misty and also  instagrameble!!
Perjalanan menuju Goa Hawang dari Desa Debut

Ada beberapa anak tangga menurun menuju Goa Hawang

Air Biru Goa Hawang
Sebenarnya kualitas fotonya agak kabur sih,
hanya ingin menunjukkan ke teman-teman bahwa air di Goa Hawang cukup dalam

Puas berenang di Goa Hawang, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Ngurbloat (atau dikenal dengan Pantai Pasir Panjang); pantai dengan pasir halus’nya itu jangan sampai terlewatkan saat mengunjungi Kei ya.. oh iya, sebelum kami ke Ngurbloat kami mampir untuk mengunjungi Bukit Masbait. Bukit ini adalah salah satu lokasi untuk wisata religi umat Katolik, semacam napak tilas perjalan kesengsaraan Kristus. Di atas bukit ini, kita bisa melihat Kota Tual dengan gugusan pulau-pulau kecil di sekitarnya, menarik! Karena masih satu arah perjalanan, kami juga singgah di Pantai Ohoidertawun sebelum akhirnya sampai di Ngurbloat.
Dari atas bukit ini, kita dapat melihat kepulauan Kei dari ketinggian.
Bukit masbait bisa dikatakan salah satu titik tertinggi di Langgur.

Bukit Masbait disa dikatakan lokasi wisata religi bagi umat Katolik. 
Di tempat ini, kita akan melihat perjalanan spiritual Kristus saat disalibkan.

Nah, pantai di Kei sebenarnya saling berdekatan.
Pastikan melihat petunjuk arah dengan baik ya.
Masuk pintu gerbang Pantai Ngurbloat – Pasir Panjang, rasa penasaran semakin meningkat. Yess... finally... Untuk masuk ke kawasan pantai ini, dikenakan retribusi Rp.5.000,- / orang. Pas sampai dan menginjak pasir’nya itu..nyesss... lembut banget kayak tepung terigu.. kami menghabiskan banyak waktu untuk menikmati sore di pantai ini lengkap ditemani dengan suguhan Pisang Enbal dan Teh Anget.. Syuuurrggaaaa....hha.. Selama perjalanan Beta ke beberapa pelosok daerah, harus Beta akui, sunset dari Pantai Pasir Panjang memang juara’nya. Betah berlama-lama di tempat ini hingga tanpa terasa malam’pun menjelang sebelum kami memutuskan untuk pulang.
Pantai Ngurbloat yang masih asri dan teduh dengan vegetasi yang cukup padat
Pantai Ngurbloat adalah salah satu pantai dengan pasir terhalus di dunia. Bahkan sat kita berjalanpun, kaki kita akan mengendap dibuatnya. Sunnguh ciptaan Tuhan yang indah..

Beta dan Pantai Pasir Panjang (Ngurbloat)

Lengkapi santai soremu dengan satu porsi Pisang Embal tatkala menikmati indahnya Pantai Ngurbloat

Rekomendasi mengunjungi Ngurbloat (versi Beta) yakni pukul 16.00 - 19.00 WIT


DAY 2 - NGURTAVUR

Tetabuhan musik terdengar sayup-sayup dari kejauhan di Debut.. Aah.. kebetulan banget anak-anak SD N 1 Debut yang sedang latihan untuk tari penyambutan. Selepas meminta izin, Beta mendokumentasikan tari kas Kei tersebut, sangat seru dan menarik melihat keceriaan mereka..hhe...
Tari Panah Kei
Harus Beta akui, single traveller itu berat di ongkos untuk kebutuhan transportasi yang berhubungan dengan nyebrang menyeberang lautan bebas,, terkadang relasi dan kenalan sangat diperlukan dalam kondisi tertentu, termasuk dalam perjalanan kami menuju Ngurtavur pagi ini. Salah seorang kerabat Hendri adalah orang yang tinggal di daerah Ngurtavur, dan bersyukurnya kami mendapatkan perahu yang dikemudikan langsung dari tetua adat di daerah tersebut yang tidak lain adalah Ayah dari kerabat Hendri. Sebenarnya tanpa kenalan’pun kalian juga tetap bisa mengunjungi Ngurtavur dengan biaya sewa perahu yang disebutkan di atas ya. Pintar-pintar bawa diri untuk bisa berdiskusi mengenai harga sewa perahu motor, tentunya dengan harga wajar ya. Dengan begitu, kita secara tidak langsung akan membantu roda ekonomi masyarakat sekitar bukan.. Kami memang sengaja berangkat pagi interval pukul 09.00 WIT untuk menghindari gelombang laut. Selain itu, dengan berangkat pagi panas belum terlalu menyengat dan pastinya aktivitas foto-foto’pun menjadi lebih puass...
Sepanjang perjalanan kita akan melawati beberapa pulau kecil
 dengan pasir putih yang terlihat dari kejauhan

Tak kurang 40 menit dari Debut, nampak hamparan pasir putih di tengah lautan. Cahaya matahari yang menyilaukan menjernihkan air di tepian pasir hingga tampak sebening kristal.. juaraaa! Pas perahu hampir sanggah tak henti-henti’nya untuk terus mengucap syukur akhirnya menginjakan kaki di lepas pantai yang termasyur itu.
Pantai Ngurtavur dengan air sebening crystal dan panas terik yang menyengat..hhe..

Sudut lain Ngurtavur dengan pulau-pulau kecil disekelilingnya

Spechlessss dengan kejernihan air dan pantai pasir putihnya..

Karena nggak punya foto Ngurtavur  tampak atas, foto dari Bang Ahmad Hasanela (Instagram: @ahmad_hasanela) mungkin bisa mewakili bagaimana indahnya pantai ini

Seingat Beta, kami menghabiskan waktu berjam-jam di pantai ini sebelum kembali, lokasinya bikin betah memang. Saran saja, karena tidak ada sumber air dan makanan (saat Beta datang belum ada, semoga sekarang lebih tertata pengelolaannya) teman-teman bisa membawa makanan sendiri. Tapi jangan cuman makanan yang di bawa, jadilah traveller yang bertanggung jawab dengan membawa pulang kembali sampah kalian. Sekembali’nya ke Debut, kami memilih untuk mengunjungi Pantai Ngurbloat (lagi),, entah Beta mengapa betah untuk nongkrong berlama-lama di tempat ini. Kami memutuskan untuk berpisah di salah satu penginapan di Pelabuhan Tual,, dan bersiap untuk menjejakan kaki di Tanah Saumlaki bagaimana pengalaman Beta di Saumlaki,,,cek postingan berikut ya >>

Ucapan Terimakasih :
Ucapan terimakasih Beta sampaikan kepada Hendri Lestuni yang boleh menemani beta selama beberapa hari di  Tual dan Langgur. Ayah dari kerabat Hendri (aduh lupa nama Beliau, akan Beta update segera), terimakasih telah mengantarkan kami ke Bapa pung'e pante paleng eksotis di Kei..hhe.. Terimakasih juga Beta ucapkan untuk Bapak Miguel / Ibu Ratih atas informasi dan rekomendasi yang boleh disampaikan ke Beta.
Bersama Hendri dan Bapak yang mengantarkan kami ke Ngurtavur 

Catatan Jejakakibeta :

  1. Sewa mobil selama di Tual bisa menjadi alternatif jika teman-teman datang berombongan.
  2. Rental motor di Tual setahu Beta belum terlalu banyak, jika memang teman-teman adalah solo traveller, menggunakan angkot bisa jadi alternatif. Namun Anda harus menunggu cukup lama, karena lokasi tempat wisata yang masih pedesaan bisa jadi butuh waktu 1 jam lebih utuk menunggu angkot jalan. Tapi harganya sangat terjangkau, sekali jalan bisa Rp. 5.000,- sampai Rp. 10.000,-.
  3. Menggunakan ojek adalah pilihan terakhir. Jika perlu, kalian bisa sewa ojek (berikut sopirnya) seharian untuk mengantarkan ke beberapa destinasi *dengan negosiasi dan kesepakatan terlebih dahulu tentunya. Hal ini pernah beta terapkan saat menglilingi Ternate di Maluku Utara.
  4. Jangan lupa juga siapkan uang tunai yang cukup saat perjalanan. Karena wisata alam yang notabenya jauh dari anjungan tunai mandiri (ATM). 
  5. Siapkan powerbank
  6. Beberapa tempat di Kei masih kental dengan adat. Beberapa lokasi (yang dianggap keramat) mensakralkan penggunaan warna tertentu (contohnya baju warna merah). *Beta menggunakan baju warna merah di lokasi wisata yang sudah sangat ramai dikunjungi.
  7. Penginapan sudah sangat beragam di Kei (Tual dan Langgur), bahkan di sepanjang Pantai Pasir Panjang (Ngurbloat) banyak sekali ditemui penginapan dengan harga yang cukup bersahabat. Silahkan teman-teman googling untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.
  8. Siapkan makanan dan air yang cukup saat mengunjungi Ngurtavur. 
  9. Siapkan sun screen untuk melindungi kita dari panas'nya Kei yang direfleksikan dari pantainya yang putih bersih..hhe..
  10. Selalu menjadi traveller yang bertangung jawab, dengan hanya meninggalkan jejakaki, capture dokumentasi dan membawa / membuang sampah pada tempatnya.