Selasa, 07 September 2021

Pulau Tam, Sentra Gerabah yang Hampir Punah

 

Pulau Tam? Ya, terdengar asing di telinga bukan, tidak hanya bagi orang awam, masyarakat Maluku'pun juga jarang mendengar daerah ini. Pulau Tam tergabung pada gugusan di kepulauan Kei, namun secara administratif masuk dalam wilayah Kota Tual.  Perjalanan ke Pulau Tam Beta mulai dari Ambon menggunakan Kapal Pelni. Oh iya, perlu teman-teman ketahui bahwa perjalanan kali ini Beta lakukan pada masa pandemi. Tentunya syarat-syarat kelengkapan kesehatan seperti Rapid Test Antigen, Kartu Kuning (Kartu Pemeriksaan kesehatan di Pelabuhan) serta Vaksinasi telah Beta lengkapi semua. 

Tiket berikut berkas Rapid Tes dan Kartu Kuning

Setibanya di Tual, Beta memilih menginap di penginapan yang berlokasi tidak jauh dari pelabuhan. Ini sangat memudahkan Beta untuk sewaktu-waktu untuk cek jadwal kapal di pelabuhan. Sebenarnya jadwal Kapal dari Tual ke Pulau Tam dilayani oleh Kapal Fery ASDP seminggu dua kali; yakni pada hari Kamis dan Sabtu. Namun karena alasan perbaikan, Kapal Fery tujuan Tam hanya dilayani pada hari Sabtu.

Penginapan Cahaya Tual menjadi andalan tiap kali Beta ke Tual
 (Bangunan tiga lantai dengan tembok berkeramik putih)

Selalu tekankan, ada harga ada fasilitas ya.
Salah satu tipe kamar yang Beta tempati di penginapan Cahaya.

Nah, karena jadwal tersebut, Beta kepikiran untuk menggunakan plan B. Beta kontak kolega untuk menjemput di Pulau Tayando pada hari Kamis, dengan harapan dapat pulang kembali ke Tual dengan kapal Fery pada hari Sabtunya. Namun rencana tersebut malah gagal total.

Nyasar dan Susah Sinyal

Kapal Fery Tanjung Madlahar sebagai andalan masyarakat
untuk bertransportasi ke pulau-pulau kecil di Kepulauan Kei

Kamis pagi Beta berangkat ke Pelabuhan Tual, dan kapal Fery berangkat pukul 09.00 WIT. Setelah 4 jam perjalanan kapal sempat singgah satu kali, sebelum melanjutkan perjalanan. Dua jam kemudian Beta tersadar, harusnya Tayando ditempuh 4 - 5 jam saja dari Tual. Namun ini sudah lewat 2 jam'an, belum tampak satupun daratan, Beta mulai panik. Sejurus kemudian Beta mulai tanya beberapa orang di kapal, namun jawaban belum memuaskan. Ternyata mereka taunya Beta Tujuan Tayando Yamtel, dimana tujuan tersebut akan disinggahi setelah transit di semua pelabuhan. Setelah bertemu dengan satu anak muda Tayando, Beta akhirnya tau kalau Beta nyasar.
Tempat duduk untuk kelas ekonomi

Tampak muatan dalam Kapal Fery

Susahnya sinyal di atas lautan menambah rasa bersalah Beta kepada kolega yang sudah siap menjemput Beta dari Tayando ke Tam.. Rasa-rasa ingin berenang saja.. Dan benar saja, setelah mendapat sinyal, Bapak Sabila (kolega kami) telah mencari Beta keliling pulau Tayando. Sungguh, sesuatu yang di luar rencana.
Kenapa Beta bisa "nyasar",, ternyata di Tayando dan beberapa pulau kecil di Kepulauan Kei, masih banyak yang belum memiliki dermaga / pelabuhan besar untuk kapal bersandar. Semua aktivitas berlangsung di tengah lautan. Bagi pendatang seperti Beta, bongkar muat orang di tengah laut adalah pengalaman baru. Bukannya tanya orang ini sudah sampai mana, Beta malah asik mendokumentasikan kegiatan tersebut. Yang ada di pikiran Beta adalah, kapal sampai ya ada pelabuhan..hhe.. That's it! lain ladang lain belalang memang, lain daerah lain juga keadaannya.. dan pikiran Beta tidak pada tempatnya saat itu dan tidak menyadari bahwa Beta sudah sampai tujuan. Akhirnya Beta harus menumpang kapal Fery tersebut selama 24 jam dan kembali ke Tual. Sungguh perjalanan yang melelahkan.
Material bangunan banyak ini sejatinya material untuk pembuatan masjid di Pulau Kaimer

Semua material diangkat manual dengan tangan. Dampaknya, tentu saja membutuhkan waktu berjam-jam untuk memindahkan'nya manual dari Kapal Fery ke Speed Boat

Bertemu dengan Para "Pelaku Budaya"

Rasanya belum tuntas tubuh ini me-recovery perjalanan nyasar satu hari yang lalu. Tapi, pagi ini (Sabtu) Beta kembali bergegas untuk mengejar kapal Fery dari Tual menuju Pulau Tam. Setelah menempuh kurang lebih 6 – 7 jam perjalanan, akhirnya Beta sampai tujuan. Selama di atas kapal, Beta berkenalan dengan beberapa penumpang lainnya. Sebagai bonus SKSD (Sok Kenal Sok Deket); Beta bersekempatan mendapat tumpangan speed gratis saat menyeberang menuju pessir pantai..hhe.. Selama di Pulau Tam, Beta tinggal di rumah salah satu kolega, yakni keluarga Mantreanubun. Tentu saja, tak lupa untuk melapor diri ke Bapak Sekretaris Desa setempat.

Speed Boat yang membawa penumpang dari Fery ke pesisir

Pulau Tam,  Desa Ngur Hir
Sebenarnya tujuan utama Beta datang ke Pulau Tam adalah untuk melihat langsung proses pembuatan kerajinan gerabahnya. Salah satu turis berkebangsaan asing pernah menuliskan pengalamannya menjelajah Kepulauan Kei melalui artikel online. Dari situlah Beta mendapatkan informasi tentang Pulau Tam. Jauh-jauh hari Beta sudah menghubungi keluarga Mantreanubun untuk memesan beberapa kerajinan tersebut. Memang, membuat Ub (Gerabah dalam Bahasa Setempat) atau dikenal dengan Tampayang / Guci Tempat Air tersebut membutuhkan proses yang tidak sebentar. Dari proses pengulenan bahan dasar tanah liat, pembentukkan, pengeringan dan pewarnaan membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu; sebelum berakhir pada proses pembakaran. 

Perlengkapan Mama Siti Hajar saat membuat gerabah. Yang membuat gerabah ini khas adalah pewarna alamnya (perhatikan batu warna merah). Batu yang biasa disebut dengan Wat Mas ini memmberikan hasil warna yang khas dan ethnik.

Gerabah Ub (Tempat Air) yang tebuat dari komposisi Tanah Liat dengan campuran sedikit pasir halus, diuleni sampai kalis; kemudian dibentuk dan dianginkan selama dua minggu

Salah satu pengrajin gerabah yang Beta temui adalah Mama Siti Hajar. Walaupun usianya sudah senja dan tidak lancar Berbahasa Indonesia (masih menggunakan bahasa daerah), senyum dan semangatnya sebagai perajin gerabah masih dapat Beta rasakan. Selain Siti Hajar, Beta juga berkesempatan bertemu dengan Siti Johora, Sarinah, dan Mama Widat. Tentu saja, mereka adalah generasi terakhir pengrajin gerabah di pulau ini, yang kemudian Beta lebih senang menyebut mereka sebagai pelaku budaya. Gerabah yang mereka buat dahulunya berfungsi sebagai tempat air, tempat memasak obat, dll. Namun, fungsi tersebut kini telah tergantikan dengan perlengkapan yang lebih tahan lama / modern seperti berbahan plastik maupun stenless stell. Beberapa diantaranya mencoba berinovasi dengan membuat vas dan pot bunga sesuai pesanan. 

Mama Siti Hajar dengan gerabah Ub karyanya

Mama Siti Johora sangat senang saat Beta membeli gerabahnya.. 

Mama Sarinah membuat asbak dan juga mainan anak-anak berbentuk ayam

Mama Widat berkesempatan menunjukkan sekuruh karyanya.
Bahkan Mama Widat masih membuat gentong ukuran besar untuk tempat air lo.. 

Saat Beta bertanya ke salah seorang anak perajin, mereka menjawab tidak bisa membuat kerajinan ini. Beberapa hal yang membuat kerajinan ini tidak ter-regenerasi adalah kurangnya peminat (pembeli). Karena fungsinya sudah tergantikan dengan perlengkapan yang lebih modern, permintaan sebenarnya ada, namun tidak banyak. Rata-rata masih didominasi oleh kolega maupun instansi terkait sebagai barang kenangan, media promosi pariwisata dan pajangan.  Harga satu Ub biasanya dijual mulai dari puluhan ribu (ukuran sedang) sampai 100ribu'an (untuk ukuran besar). Karena dikerjakan disela waktu luang, kerajinan ini dilihat sebagai barang yang kurang memiliki nilai ekonomis lagi. Padahal gerabah ini sebenarnya memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Jika tidak ada regenerasi, sangat dikhawatirkan jika nantinya akan berakhir menjadi benda pajangan penanda zaman di museum. Sungguh sangat disayangkan memang, problema yang sama saat Beta berkunjung ke salah satu sentra gerabah lain di Desa Banda Eli; Pulau Kei Besar. Oh iya, sebagai apresiasi, Beta sempat membeli beberapa hasil karya mereka. Senyum simpul'pun merekah; pengrajin senang, pembeli'pin juga senang.. semuanya senang.. hhe

Salah satu inovasi Mama Siti Hajar; membuat pot dan vas bunga

Setelah melihat proses pembuatan gerabah, dan bertemu dengan para “Pelaku Budaya”, tidak banyak akhtivitas yang Beta lakukan di Pulau Tam. Sebenarnya ada Goa tempat masyarakat mengambil air di pulau ini, tapi… panasnya Pulau Tam di siang hari adalah waktu yang pas untuk “balas dendam” istirahat yang belum terlampiaskan karena nyasar kemarin..hhe..

Pulang ke Tual dan bertolak ke Ambon

Inget saat Beta SKSD dengan penumpang lain saat perjalanan ke Pulau Tam di atas Kapal Fery? Nah.. Saat itu Beta berkenalan dengan salah satu Kaka’ bernama  Dino. Kaka’ Dino dan beberapa rekannya kebetulan sedang bertugas untuk pendataan perumahan penduduk. Setelah saling berkabar dan satu lain hal, kami sepakat untuk pulang ke Tual dengan menggunakan speed boat dari masyarakat Senin pagi. Setelah berpamitan kepada keluarga (yang bisa dibilang cukup tergesa-gesa), kami bertolak ke Tual.  Saat di tengah perjalanan, kami sempat bertukar speed dan singgah di Pulau Nunya’i. Ya, pulau panjang berpasir putih ini sempat beta lihat dari kejauhan saat perjalanan di kapal Fery kemarin dan ternyata memang eksotisnya luar biasa! Karena memang masih asli dan jarang dikunjungi juga ya..hhe..
Pulau Nunya'i, dapat ditempuh dengan speed boat dari Tual selama tiga jam

Setelah perjalanan tiga jam (dengan basah kuyup selama perjalanan) kami akhirnya sampai Tual. Sesampainya di Tual, Beta berpisah dengan Kaka’ Dino, dan secepat kilat langsung melakukan rapid tes, membeli tiket kembali ke Ambon sekaligus packing.. Sungguh perjalanan kali ini bisa disebut marathon trip..hhe..

Demikian perjalan  Beta, semoga dapat menginspirasi teman-teman untuk berkunjung juga ke Kepulauan Kei khususnya Pulau Tam. Beta sudah tiga kali ke Kepualau Kei dan selalu saja alasan untuk kembali dan kembali lagi.. Wait for me (again) Kei..

Ucapan Terimakasih



1. Tuhan YME
2. Sdra. Jalal Mantreanubun atas segala informasi dan bantuannya untuk menghubungi kolega'nya di Pulau Tam
3. Bapak Soleman Masahida (Bapak Sabila), Kaka' Abdul Jabar Elwahan (Jabar) dan seluruh keluarga di Pulau Tam yang telah bersedia membukakan pintunya untuk Beta singgah selama berada di Pulau Tam
4. Bapak Sekretaris Desa, Para "Pelaku Budaya " pengrajin gerabah dan semua masyarakat Pulau Tam, khususnya di Desa Ngur Hir
5. Bung Nurcholis Effendy; yang bersedia membantu untuk mencarikan tiket dari Ambon ke Tual
6. Sdra. Dino, Hendri Aldryn Lestuny, Jeery Alfons, dan beberapa teman-teman yang saya hubungi (dan bersedia membantu) untuk memperlancar misi perjalanan saya ini

Yuk, intip video perjalanan Beta :




Estimasi Biaya Perjalanan


Tiket Ambon - Tual (Kapal Pelni): Rp.290.000 / Orang (tipe tempat tidur ekonomi)

Jadwal dan pemesanan bisa cek di : www.pelni.co.id

Atau datang langsung di Travel Agen di sekitar pelabuhan

*Jadwal dapat berubahsewaktu – waktu

Tiket Kapal Fery (Bahtera Nusantara)

- Rp. 300.000 / Orang (untuk tipe tempat duduk)

- Rp. 400.000 / Orang (untuk tipe tempat tidur)

Kontak / Pemesanan :

Agen Cabang Ambon :

Jl. Wem Reawaru No. 29 B (Belakang Kantor Gubernur Maluku)

Kontak : 081247100053 

Agen Cabang Tual :

Jl. Pattimura - Tual

Kontak : 085242230412 

Jadwal :

Ambon – Tual : Kamis

Tual – Ambon : Sabtu

*Jadwal dapat berubahsewaktu – waktu

Tiket Fery Tual – Pulau Tam :

Rp. 45.000 / Orang (untuk tipe tempat duduk ekonomi)

Datang langsung di loket pelabuhan satu jam sebelum kapal berangkat

Jadwal :

Tual – Tayando – Tam : Kamis & Sabtu : 08.00 WIT

Tam - Tayando - Tual : Kamis & Sabtu : 14.00 WIT

*Jadwal dapat berubah sewaktu - waktu

Sewa Speed dari Tam menuju Tual : Rp. 200.000 / Orang (tergantung kondisi / jumlah penumpang)

Penginapan di Tual :

Penginapan Cahaya di Tual mulai dari : Rp. 150.000 / Hari *Twin share untuk 2 orang


Kamis, 19 Agustus 2021

Mengintip Gereja Tua Banda Naira

Sudah beberapa kali berkunjung ke Banda Naira, lebih tepatnya singgah / transit; baik itu perjalanan dari Ambon ke Tual maupun sebaliknya. Selalu dan selalu saja gereja Tua Banda Naira tutup (karena Beta datang bukan di hari kebaktian / hari minggu). Kebetulan sekali perjalanan kapal fery Bahtera Nusantara dari Tual ke Ambon (yang beta tumpangi) singgah 5 jam di Banda. Aah.. Kali ini jangan sampai lolos batinku. Saat kapal sandar, langung keluar pelabuhan dan menuju ke gereja yang iconic ini. Benar saja, gereja ini sedang buka. Beta langsung permisi dengan petugas (yang kebetulan saat itu sedang berlatih paduan suara) untuk masuk dan berfoto di setiap sudutnya. Akhirnya....

Gereja Banda tampak atas

Gereja tua yang berwibawa

Rasa-rasa pengen pre-wedding dan pemberkatan nikah di sini... *eh... 

Kenapa Beta ngebet banget masuk gereja yang satu ini, gereja ini dibangun oleh Belanda pada tanggal 20 April 1873, artinya sudah berusia hampir 200 th. Nah yang membuat gereja ini semakin unik adalah adanya 80 nisan yang terdapat pada lantai gereja. Bukannya serem atau merinding, keberadaan nisan tersebut semakin membuktikan bahwa Banda Naira adalah kepulauan di Maluku Tengah yang penuh dengan sejarah. Ah.. selalu saja ada alasan untuk kembali ke Banda Naira.. 





Selasa, 24 Maret 2020

Round Trip Pulau Seram



Pulau yang lebih dikenal oleh masyarakat Maluku ini dengan Nusa Ina (Pulau Ibu) memang nggak habis-habisnya untuk dijelajahi dan terus terang ini untuk kesekian kalinya Beta kembali ke pulau ini untuk liburan. Mengelilingi seperempat Pulau Seram di Maluku Tengah, membayangkan saja sudah lelah, apalagi menjalaninya..hhe..  Butuh tenaga ekstra pastinya dan itulah Beta berasama beberapa rekan merealisasikan perjalanan ter-niat dengan mengunjungi dua tempat yang boleh dibilang berlawanan dengan jarum kompas; Pulau Tujuh dan Air Jodoh (Ninifala).

Ambon - Masohi - Goa Akohi

Berangkat dari Ambon dengan penyeberangan kapal feri malam (di Pelabuhan Liang / Hunimua) pukul 20.00 WIT, kami sampai di Masohi pukul 01.00 WIT. Artinya kami telah menyeberang Feri 2 Jam dan perjalanan darat 3 jam, Istirahat sebentar di  rumah salah satu kolega sebelum akhirnya kami bertolak ke Air Jodoh Ninifala keesokan harinya.
Tarif kendaraan roda empat Gol IV dan Penumpang Liang - Waipirit
Pelabuhan Waipirit - Seram
Pukul 08.00 WIT kami segera bergegas untuk menuju Tehoru dan menuju Ninifala namun sebelumnya kami singgah di Desa Tamilouw. Nah, dari informasi via google di desa inilah terdapat goa dengan stalaktit dan stalakmit yang masih aktif dan dengan jumlah yang mengagumkan. Dan benar saja, saat kami masuk beberapa juga sudah mengkristal dan membiaskan cahaya yang berkilau saat kami menyalakan flash light dari HP sungguh, ciptaan Tuhan yang sangat indah. Bahkan hasil informasi yang Beta dapat dari Google, walaupun kurang populer di masyarakat Maluku stalaktit dan stalakmit ini termasuk yang terbanyak di dunia lo.. Wow.. Untuk memasuki Goa ini, jangan lupa untuk kontak masyarakat sekitar untuk mendampingi ya. Dari Masohi ke Akohi membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam perjalanan darat.

Nyesel banget karena pencahayaan minim dan HP nggak support. Tidak banyak yang bisa saya bagikan tampak dalam Goa'nya.. Next kalaku ada kesempatan kembali lagi.. 

Pemandangan Desa Tamilouw dari atas bukit di depan Goa Akohi
Nggak bisa melihatkan seisi goa karena keterbatasan resulusi HP.. :(
Menurut penuturan pemuda desa yang mengantarkan kami, goa ini sebenarnya tidak sengaja ditemukan oleh masyarakat saat pembuatan jalan yang melewati wilayah ini. Sebenarnya belum puas untuk menjelajah Goa Akohi, konon katanya bisa sampai setengah hari menjelajah Goa ini dan belum ditemukan ujungnya. Hmm.. lain kali harus ke tempat ini lagi. 

Goa Akohi - Air Jodoh (Ninifala)

Saatnya bertolak ke Air Jodoh Ninifala yang jaraknya kurang lebih satu jam lagi dari Goa Akohi. Tarif masuk ke mata air Ninifala hanya Rp.5000,- / orang. Nah satu lagi keajaiban Tuhan, selain pernah melihat tirta empul di Bali, kali ini berkesempatan menyaksikan langsung salah satu sumber mata air dengan debit yang sangat deras. Akhirnya terjawab sudah rasa penasaan selama ini, air dari gunung berasal dari mana. Mata air ini sangat jernih dan memiliki kadar oksigen yang tinggi, air minum dalam kemasan mah lewat...hhe..

Pintu Gerbang Air Jodoh Ninifala (Baru saja selesai dibuat)
Numpang Nampang.. :D

Air Jodoh (Ninifala) - Pulau 7 Pasanea

Kami sadar bahwa perjalanan selanjutnya ke Pulau Tujuh adalah perjalanan yang jauh dan sejalur dengan arah menuju Pantai Ora. Puas kami berendam di Air Jodo (kalau boleh jujur, sebenarnya belum puas..hhe..) kami bertolak menuju Pulau Tujuh - Pasanea yang kami tempuh selama kurang lebih 4 jam perjalanan darat *dengan kecepatan ekstrem..

Nah... sebelum sampai ke Pasanea,, akan disuguhkan pemandangan seperti ini..

Jalan baru...halus dan mulus..

Tempat kami dan pengunjung lainnya menitipkan / menginapkan kendaraan bermotor
Sementara mobil kami inapkan, untuk menyeberang sendiri ke Pulau 7 basudara dapat  menggunakan speed kapasitas 7 orang dengan biaya Rp. 100.000 – Rp. 150.000 / speed boat. Nah, bisa patungan bila datang berombongan. Di Pualu Tujuh, kami menginap di penginapan yang dikelola warga dengan dana desa.. Tarif menginap Rp. 750.000/ malam / bungalow sementara menginapkan kendaraan bermotor per malam dikenakan beaya antara Rp.50.000 - Rp.100.000,-
Speed kapasitas 8 orang, menyeberang kurang lebih 10 menit dari pelabuhan ke pulau utama
Bungalow yang dikelola oleh warga dengan Dana Desa
Ruang Tamu
Pantai Pasir Putih saat sore hari,,,
Dermaga Cinta.. (alah) 
Biar sah kalau sudah menjejakan kaki di Pulau Tujuh..
Papan Informasi dan destinasi

 Karena kami hanya menjejaki pulau utamanya saja, sebenarnya masih banyak destinasi yang bisa dieksplorasi di Pulau Tujuh seperti snorkling atau eksplorasi ke enam pulau lainnya dengan cerita rakyat'nya yang menarik. Tapi suasana sore di sini tenang banget, kalau rombongan bikin tenda juga sepertinya akan nyaman. Terus terang bagi Beta yang sudah lima tahun sudah di Ambon, pemandangan pantai seperti ini sudah biasa..hhe.. 


Pulang ke Ambon via Seram Utara Barat

Puas dan lelah, kami harus menerima kenyataan bahwa perjalanan pulang akan semakin menantang di depan. Apalagi musim libur seperti ini, jangan sampai kami tidak kebagian kapal feri saat menyeberang ke Ambon nanti. Perjalanan kami lanjutkan dengan lintas Seram Utara Barat menuju Taniwel sebelum berakhir di  Pelabuhan Waipirit. Bersyukurnya jalan ini sudah halus mulus dengan aspal, bahkan beberapa jembatan baru saja diresmikan. 
Pemandangan sepanjang perjalan pulang.. 
Pesta Durian di Taniwel.. mantab.. hhe...
Ok, demikianlah catatan perjalanan Beta kali ini. Sedikit banyak semoga membanjtu bagi basudara yang berniat untuk mengunjungi ke tiga tempat tadi. Salam

  Catatan Jejakakibeta :

1. Sewa mobil Ambon – Seram / 2 Hari Rp. 1.500.000 – Rp. 2.000.000. Jangan lupa untuk selalu meamstikan bensin full tank setiap kali perjalanan.
2. Sediakan stok makanan / minuman ang cukup. 
3. Jangan lupa juga siapkan uang tunai yang cukup saat perjalanan. Karena wisata alam yang notabenya jauh dari anjungan tunai mandiri (ATM)
4. Siapkan powerbank
5. Jangan lupa perlengkapan snorkling (kalau punya di bawa)
6. Bawa tenda dan camping di Pulau Tujuh akan menghemat dana dan lebih seru
(jika cuaca mendukung)
7. Siapkan senter / penerangan yang cukup, kamera yang high rest, serta perlengkapan jelajah goa lainnya jika ingin mengunjungi Goa Akohi









Sabtu, 19 Oktober 2019

Toraja Ma'elo


The Power of Spoken Words!
Pernah dengar penggalan kalimat ini? Ya, bisa dibilang apa yang keluar dari mulut memilki kekuatan ibarat sebuah doa dan lagi-lagi ini yang Beta alami. Sempat berkelakar akan datang ke Toraja (lagi) di lain waktu, dan benar saja Beta kembali ke Tana Toraja. Jika tujuh tahun lalu mengawali start dari Kota Pahlawan, kali ini Beta mengawali perjalanan dengan kota dengan senyuman manis dan kulit eksotis; Ambon Manise.
Riuh suara klakson mobil angkutan umum sudah terdengar dari kejauhan, perlahan kapal penumpang yang bernamakan salah satu gunung di Magelang baru saja memasuki Pelabuhan Yos Sudarso Ambon. Menggunakan layanan PT.Pelni untuk menuju pintu gerbang Provinsi Sulawesi Selatan selama dua hari lamanya, kemudian melanjutkan perjalanan darat selama delapan jam untuk menuju Toraja, hmm.. membayangkan saja sudah pasti melelahkan. Hayooee... mau bilang apa lai,, hajar saa.. sejenak menjauh dari rutinitas.. hhe.. Karena perbaikan sistem layanan penumpang (satu tiket, satu tempat tidur), ada baiknya pesan tiket kapal jauh-jauh hari agar tidak kehabisan.
Tiket baru Kapal Pelni

Suasana di dalam Kapal Todar

Gimana rasanya terombang-ambing di lautan selama dua hari? Membosankan..hha.. Tiba pukul 19.30 WITA di Makassar, Beta memilih untuk menggunakan Bus Litha dengan berbagai jadwal dan rute perjalanan. Oh iya, sekarang pesan travel Bus seperti ini sudah bisa dipesan di Traveloka. Mantab..
Sambil makan sambil nyanyi I will Survive'nya Maroon 5 >_<


Yang katanya salah satu lokasi melihat spot sunset terbaik di dunia, Ujung Pandang a.k.a Makassar

Tiket Bus Litha, Makassar - Toraja : Rp. 170.000,-

Agen Bus Litha melayani Palopo lintar Provinsi di Sulawesi

Bus yang  akan membawa ke Toraja yang lebih mirip hotel berjalan..hhe.. 


Berburu tenun di Sa’Dan sampai blusukan di Pasar Belu
Semilir angin dingin menembus kain selimut yang disediakan pihak Bus Litha, bukan karena AC di dalam Bus, namun udara khas dataran tinggi yang menyusup dari pintu saat penumpang turun. Semacam sapaan bahwa Beta sudah sampai di pusat kota Kabupaten Toraja Utara; Rantepao.
Dengan bantuan Google maps & motor matic yang Beta rental seharga 70rb / hari, cukuplah menjadi modal keliling dataran eksotis ini selama 4 hari kedepan..hhe.. Setelah istirahat sebentar, Beta memustuskan untuk menyambangi Desa Sa’Dan, tempat dimana sentra Kain Tenun Toraja dibuat. Dari Rantepao ke Desa Sa’Dan dapat ditempuh sekitar satu jam.

Mama penenun di Desa Sa'Dan atas

Mama penenun di Desa Sa'Dan atas

Nenek Penggau yang usianya sudah 90th'nan. Masih sehat dan sungguh masih mendedikasikan untuk tenun

Akhirnya lo punya foto kayak gini..hhe.. 

Beliau tidak sungkan untuk diajak selfie, sudah biasa katanya..hhe.. :)

Desa Wisata Sa'Dan bawah

Pintu masuk kawasan Sa'dan
Nah, kalau ditanya takut nyasar sih enggak ya (karena beberapa kali memang disasarkan Google Maps..hha), lebih takut ban motor bocor di tenggah pematang sawah karena beberapa ruas jalan rusak menjadi kekhawatiran Beta selama menjelajah Toraja Utara.
Keesokan paginya, Beta memilih berburu kerajinan tangan di Pasar Rantepao dan menengok ratusan ekor Tedong (Kerbau) yang perjualbelikan di Pasar Belu yang diadakan hanya pada hari Sabtu. Sudah menjadi rahasia umum jika Tedong menjadi salah satu hewan kurban wajib saat upacara kematian dengan harganya yang cukup fantastis. Beberapa jenis Tedong diantaranya; Tedong Lumpur, Tedong Albino, Tedong Salepo (bercak hitam di punggung), Tedong Lutung BokeTedong yang besar, gemuk dan bersih jika diperhatikan nampak gagah memang. Semacam simbol kewibawaan serta kasta bagi siapa saja yang memilikinya.

Tedong Bonga

Tedong yang gagah..

Aneka jenis tedong anakan sampai dewasa ada di sini

Pilih dipilih..

Sabung ayam dan area jual unggas di Pasar Belu

Babi hutan selain untuk konsumsi seharian, juga untuk hewan ternak sekaligus sarana adat


Di hari yang sama Beta mendapatkan informasi dari tempat menginap jika akan diadakan adu Tedong atau biasa disebut Ma’Pasilaga Tedong di salah satu desa (yang pada akhirnya Beta tahu bahwa ini adalah bagian dari rangkaian upacara pemakaman adat). Aturan mainnya sih sederhana, Tedong akan diadu secara bergantian sampai acara berakhir, siapa yang paling tangguh ialah jawaranya. Tak pelak lembaran uang puluhan sampai ratusan ribu keluar dari saku dari saku penonton untuk mempertaruhkan Tedong jagoan mereka.
Ma;Pasilaga Tedong

Serasa nonton adu Banteng di Amerika Latin,,hhe..

Hiburan rakyat..
Happy Sunday
Setiap kali backpacker’an, Beta berusaha (sebisa mungkin) untuk menyempatkan beribadah di tempat yang Beta singgahi. Terlepas dari kewajiban Beta sebagai umat kristiani, Beta ingin berbaur dan menyelami kehidupan masyarakatnya. Kali ini Beta berkesempatan beribadah di Gereja Tua Toraja yang berada di pusat kota Rantepao. Uniknya, ibadah sampai dilakukan sampai empat kali karena jumlah jemaat melebihi kapasitas daya tampung gereja yang mungil.
Gereja Tua Toraja Utara

Interior Gereja dengan jadwal Ibadah pada pukul : 06.00, 09.00, 16.00 & 18.00 WITA

Tidak ingin menyia-nyiakan satuharipun untuk eksplore daerah yang tersohor dengan biji kopinya ini, selesai ibadah Beta langung tancap gas menuju Desa Bori. Susunan batuan menhir sebagai penghormatan roh nenek moyang dan leluhur masih banyak dijumpai di daerah ini. Karena Kalimbuang Bori sebenarnya adalah kompleks pemakaman keluarga, jangan lupa untuk menjaga etika dan selalu tanyakan kepada petugas / penduduk sekitar jika ada hal yang belum diketahui. Estimasi waktu dari Rantepao menuju Kalimbuang Bori adalah 45 menit dan dikenakan biaya Rp.15.000,- sebagai retribusi. Susunan batuan yang kokoh, tongkonan, area persawahan dan hutan bambu membuat komplek ini semakin artistik jauh dari kata menyeramkan..hhe..
Batuan menhir yang gagah, kebayang aja bagaimana cara menata dan mengangkut di kompleks ini

Untuk mendirikan satu batuan menhir, harus mengorbankan puluhan hingga ratusan hewan kurban

Komplek pemakaman yang abadi

Melewati persawahan, perjalanan menuju Bori Kalimbuang 

Suara riuh di tengah sawah mengalihkan perjalanan Beta, oh sepertinya ada acara warga batin’Ku. Asyiknya kalau berkunjung ke Toraja paska panen raya ya gini, kita akan menemukan beberapa aktivitas warga salah satunya Ma’seba. Acara baku tendang kaki antar pemuda desa, tiada rasa benci dan dendam setelah acara selesai. Justru raut wajah kegembiraan dan persaudaraan dari acara yang pada awalnya terlihat seperti tawuran..hhe..
Ma'Seba,,


Menyaksikan Prosesi Pemakaman Adat yang sakral
Angin dingin yang terbawa dari kabut lereng Gunung Sesehan di Batutumonga menembus kulit. Selain karena Beta yang salah kostum, sepertinya tubuh terlanjur terbiasa dengan deburan ombak dan panas terik Pantai Natsepa Ambon..hhe.. Hari terakhir sebelum memutuskan untuk kembali ke Makassar, yang niat awalnya hanya ingin melihat pekuburan batu di Lokomata malah berujung melihat prosesi sakral Rambu Solo’ saat bertemu dengan pemuda Toraja di tengah perjalanan; Roman Pongsama’. Kebetulan lokasi prosesi Rambu Solo melewati Lokomata, nah Lokomata adalah pekuburan batu besar yang terletak di pinggiran jalan. Amazed aja sih, ada batu sebesar ini di sisi jalan dan itu adalah komplek pemakaman yang instagramable. 
Pekuburan Lokomata, asli batu ini besar banget..

Lokomata dari sisi lain

Sepanjang perjalanan menuju Desa Buntu Pepasan (dimana prosesi Rambu Solo’ diadakan), Beta tak henti-hentinya berdoa & berharap semoga ban motor tidak bocor. Bagimana tidak, jalan yang bebatuan tanpa aspal serta perjalanan turuk naik lembah membuat Beta selalu was-was. Bang Roman terus meyakinkan Beta bahwa Desa sudah di depan, padahal aslinya masih jauh banget..hadehh..PHP ini namanya.hha..
Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang asli keren) 

Tongkonan di perbukitan..what a view..

Batuan menhir banyak sekali di pedesaan, wujud penghormatan kepada nenek moyang

Nggak sengaja nemu air terjun pas perjalanan menuju desa; Air Terjun Sarambu

Pasca panen
Kebetulan sekali hari ini akan dilangsungkan dua acara adat Rambu Solo’ di dua keluarga yang berbeda. Karena memasuki revolusi digital 4.0 (yang berimbas dalam menurunnya minat baca), oke, Beta akan menjelaskan dan mepersingkat pengalaman Beta saat melihat prosesi Rambu Solo’ di dua tempat tersebut. Rambu Solo’ sendiri berarti ritus persembahan untuk orang mati, biasanya rangkaiannya dilaksanakan sesudah pukul 12.00 siang seiring matahari mulai bergerak menurun ke arah barat. Disini Beta paham kenapa beberapa kali Bang Roman menanyakan jam saat perjalanan menuju desa tempat diselenggarakan acara. Nah, kalau mau tahu tahapan prosesi serta srata adat pemakaman Rambu Solo’ sebenarnya ada banyak. Saat ini Beta berkesempatan menyaksikan prosesi Dipatallung Bongi, yakni prosesi pemakaman dengan minimal 4 kerbau dan puluhan babi serta prosesi penguburan yang berlangsung selama tiga hari tiga malam. Rangkaiannya terdiri dari : Hari pertama adalah Ma’Pasilaga Tedong (Pertandingan Kerbau) dan penurunan peti jenazah di halaman rumah saat malam hari. Hari ke-dua adalah Ma'Tinggoro Tedong (Sembelih Kerbau) dan penerimaan-tamu serta berlanjut pada prosesi terakhir yakni mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman.

Persiapan Ma'Pasilaga Tedong. Tedong didoakan sebelum diadu *Keluarga Bang Roman

Tedong di keluarga Bang Roman

Tedong di keluarga Bang Roman sedang didoakan, nampak seorang pemangku adat sedang berdoa agar segala rangkaian acara berjalan lancar.

Ma’Badong, kidung pujian untuk menghibur keluarga yang tengah berduka yang berisi perjalanan hidup manusia dari lahir sampai kembali ke alam baka.

Ma’Badong, kidung pujian untuk menghibur keluarga yang tengah berduka yang berisi perjalanan hidup manusia dari lahir sampai kembali ke alam baka.

Pas banget, saat kedatangan upacara memasuki sesi Mapasonglo / upacara penyambutan tamu

Para kerabat membawakan hewan ternak (umumnya Babi) untuk diberikan kepada keluarga yang beduka

Tribun tamu dan para ta'siah

Ma’Badong yang sakral

Pembagian hewan kurban yang telah dipotong, untuk dibagikan ke tamu
Toraya Ma'Elo; Totraja yang elok dan cantik kurang lebih seperti itu artinya. Sampai jumpa di lain kesempatan.

Ucapan Terimakasih kepada :
1. Tuhan YME, yang senantiasa mendampingi dalam perjalanan ini sampai lancar
2. Bang Roman Pongsama’ atas segala bantuan serta arahannya untuk menyasikan prosesi pemakaman Rambu Solo'.
3. Yang mau tanya rental motor / penginapan selama di sana, silahkan kontak saya by DM ya.
Terimakasih