Rabu, 02 Februari 2022

Jelajah Nusa Laut


Nusa Laut, secara geografis berlokasi tidak jauh dari Pulau Ambon dan bisa dibilang salah satu pulau yang tergabung dalam gugusan Pulau-Pulau Lease (Pulau Saparua, Pulau Haruku dan Nusa Laut). Nah, diantara tiga serangkai ini, hanya satu saja yang Beta belum berkesempatan untuk mengunjungi’nya. Ya, karena memang Nusa Laut atau dalam bahasa lokal disebut Pulau Anyo-Anyo (pulau kecil yang mengapung) letaknya yang paling jauh diantara dua sahabat’nya. Jadi Beta harus memperhitungkan waktu yang tepat untuk menjejaki pulau kecil yang penuh dengan sejarah ini.

Sabtu pagi, Beta bergegas menuju Pelabuhan Waai dari Kota Ambon. Walaupun berada satu daratan dengan Ambon, secara administratif, Pelabuhan Waai terletak di Kabupaten Maluku Tengah. Dari titik keberangkatan, kapal Fery harus singgah terlebih dahulu di Pelabuhan Kulur (Pulau Saparua), Pelabuhan Pulau Nusa Laut dan berakhir di Kota Masohi di Pulau Seram. Perjalanan dari Waai ke Nusa Laut ditempuh selama kurang lebih 6 jam perjalanan. Kapal berangkat pukul 09.00 WIT dan akhirnya tiba di Nusa Laut pukul 15.00 WIT, Beta langsung dijemput dengan ojek untuk menuju rumah salah satu kolega yang terletak di Desa / Negeri Sila.

Janji adalah Hutang

Lagi - lagi, selalu ada alasan untuk datang ke sebuah destinasi di Maluku. Sebagai penikmat sejarah, Beta berniat untuk melihat lebih dekat gereja-gereja tua (peninggalan masa penjajahan) yang tersebar di Pulau ini.Setidaknya teredapat enam gereja tua yang tersebar di tujuh desa di Kecamatan Nusalaut, yaitu:

·   Gereja Beth Eden (1817) di Desa Ameth

·   Gereja Bethesda (1900) di Desa Akoon

·   Gereja Irene (1895) di Desa Abubu

·   Gereja Eben Haezer (1826) di Desa Titawaai

·   Gereja Sion (1820) di Desa Nalahia

·   Gereja Eben Haezer (1715) jemaat Desa Sila dan Leinitu.

Hampir 99% penduduk yang tinggal di Nusa Laut beragama Kristen Protestan. 

Suara lonceng Gereja Tua Eben-Heazer (gereja di samping rumah singgah kami) berdentang. Bukti bahwa ibadah minggu di seluruh pulau ini akan di mulai serentak, yakni pukul 09.00 pagi. Awalnya Beta dan salah satu rekan bernama Rezika berencana untuk mengikuti ibadah di Gereja Tua di Desa Abubu; berlokasi kurang lebih 30 menit dari tempat kami tinggal. Namun pagi itu hujan sangat deras sekali dan tidak memungkinkan untuk berangkat, jadi kami memutuskan untuk beribadah di gereja samping rumah yang kebetulan gereja ter-tua di Pulau ini (sekaligus di Provinsi Maluku) yang Beta sebutkan di awal. 

Tampak luar Gereja Ebenheazer gagah dengan temboknya yang tebal

Salah satu sudut yang menurut Beta sangat cantik
dengan latar menara loncengnya..

Prasasti Gereja yang ditemukan saat renovasi gereja
yang ber-angka tahun 1715

Mimbar dan bagian lain interior masih asli,
walaupun beberapa sudah melalui renovasi beberapa kali

Janji adalah hutang,, sudah sering mendengar ungkapan ini bukan. Faktanya itu berlaku di sini dan pantang untuk dilanggar. Jika sudah janji untuk datang ke Nusa Laut maupun lokasi lain di pulau ini, wajib dan harus di tepati! Jika tidak, orang tersebut kemungkinan akan sakit. Hal itu tidak hanya berlaku bagi keturunan orang Nusa Laut saja, namun siapa saja yang sudah punya niat untuk datang ke pulau ini. Mitos itu sudah Beta dengar sejak lama memang, namun setelah kolega kami (yang asli orang Nusa Laut) membernarkan cerita tersebut; Beta langsung berdoa segera hujan reda. Kenapa? Ya jelas langsung mengelilingi pulau ini lah, dan mengunjungi Gereja Tua di Abubu sesuai dengan nazar / niat yang sudah beta rencanakan.. hehe.. Tapi sekali lagi mau ini mitos atau hanya cerita rakyat, pesan moralnya adalah; kalau sudah janji ya harus ditepati... :) 

Perjalanan Mengelilingi Pulau

Perjalanan Beta dimulai dari Negeri Sila-Leinitu menuju Negeri Titawai. Perjalanan dapat ditempuh kurang lebih 15 menit dan mengantarkan Beta sampai di Gereja Heazer Titawai, namun Beta mengurungkan niat untuk mendokumentasikannya karena saat itu sedang diselenggarakan kegiatan di dalam gereja. Beta melanjutkan perjalanan dan sampailah di Negeri Abubu. Nah, di Abubu inilah kampung halaman Pahlawan Nasional Christina Martha Tiahahu berasal. Terdapat monumen Martha Christina yang beberapa waktu lalu baru saja diresmikan sebagai penanda perjuangan Srikandi dari timur ini. Karena keterbatasan waktu, untuk sejarah perjuangannya belum bisa Beta ulas, namun teman-teman dapat mecari informasi lengkapnya di Google.

Berfoto di monumen pengingat perjuangan Srikandi dari Timur

Tidak jauh dari lokasi Patung Christina, terdapat Gereja Tua Irene, setelah izin petugas gereja, akhirnya Beta dapat diizinkan masuk untuk mendokumentasikan ruangan di dalamnya. Aah.. andaikan pagi tadi tidak hujan, pasti Beta dapat berkesempatan untuk beribadah di gereja dengan mimbar'nya yang unik ini.

Mimbar Gereja Irene dengan detail ornamen bintang.
Mungkin terdapat makna khusus ya.
Bagi Beta, simbol ini mengingatkan kita pada bintang di Timur penanda kelahiran Kristus

Bercengkrama dan berdiskusi tentang sejarah Gereja Irene
dengan penatua / petugas dari gereja.

Interior di dalam gereja dengan kursi kayu yang panjang
dapat menampung seluruh jemaat di Negeri Abubu

Ciri khas gereja-gereja di Maluku, terdapat mimbar untuk Raja - Raja.
Warna pastel dan ukirannya yang sederhana, namun menjadi vocal point di dalam gereja ini.

Sebelum sampai di Negeri Ameth, kami sempat berhenti sejenak di Negeri Akoon. Disini teman-teman dapat melihat Batu Kapal, dermaga speed boat masyarakat setempat dengan batu yang mirip kapal menjadi latar'nya. Karena sudah terlalu sore dan awan mendung menaungi, kami hanya singgah dan foto saja dan bergegas menuju Gereja Beth Eden di negeri Ameth. Beta sangat bersemangat setelah memperoleh izin dari Pendeta / penatua untuk mendokumentasikan interior gereja tersebut. 

Interior Gereja Beth Eden di Negeri Ameth.
Dari beberapa gereja di Nusa Laut,
menurut Beta gereja ini yang masih sangat otentik.

Mimbar dengan partisi kayu dan tirai,
sangat sederhana sekaligus masih terasa otentik

Salah satu ciri khas gereja tua di Maluku,
dengan ruang kubah bervolume  di area tengahnya

Sejujurnya mengelilingi Nusa Laut dan memasuki gereja tua di setiap negeri tidak bisa dilakukan secara marathon / dalam waktu singkat. Jika teman-teman perhatikan, hanya Gereja Ebenheazer di Negeri Sila saja yang sempat Beta dokuemntasikan bentuk fisik bangunannya dari luar. Selain karena cuaca yang tidak mendukung, kapasitas memori HP juga menjadi kendalanya. Beta hanya berkesempatan untuk melihat tiga dari enam gereja tua yang berada di pulau ini, itupun setelah proses perizinan Pendeta maupun Penatua / pengurus gereja. Sisanya hanya dapat saya nikmati keindahannya dari luar, walaupun rata-rata sudah banyak berubah karena renovasi dan demi kenyamanan beribadah jemaat. Yang penting nazar sudah terlaksana itu sudah cukup bagi Beta..hhe..  

Sebenarnya banyak hal di Nusal Laut (khususnya wisata bawah airnya) yang bisa di eksplore. Alamnya yang masih alami masih menyimpan rasa penasaran dan msteri bagi Beta,, ya, tapi sekali lagi Beta tidak berani berjanji untuk berkunjung lagi ke pulau ini suatu saat nanti.. hhe.. 

Bersama Kaka Karen & Rezika di Batu Kapal Akoon.
Terimakasih untuk hospitality'nya selama Beta di Nusa Laut


Ucapan Terimakasih Kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa atas segala perlindungannya

2. Rezika Juniko Uspessy untuk bantuan dan segala informasi hingga bisa mengantarkan beta untuk mengunjungi Nusa Laut

3. Keluarga Bapak Poli Kiriwenno beserta istri Ibu Pdt. Rina kiriwenno dan keluarga yang telah membukakan pintu rumahnya untuk tempat tinggal saya selama di Nusa Laut

4. Bapak / Ibu Pendeta serta penatua di beberapa gereja yang beta kunjungi atas perizinan dan akses yang boleh Beta terima




Estimasi Biaya Perjalanan

Ferry Berangkat : 

Ambon - Nusa Laut : 45.000,- (Melalu Pelabuhan Ferry Wai)

Rute & Jadwal Keberangkatan 7.30 (Waai) -> 12.30 (Kulur) -> 14.00 (Nusa Laut) 

Senin, Selasa, Sabtu 

Ferry Pulang :

Nusa Laut - Ambon  : 45.000,- (Pelabuhan Nusa Laut)

12.00 (Nusa Laut) -> 19.00 (Waai) 

Kamis, Sabtu, Minggu

(Turun di Amet)

 

Speed Berangkat :

Tulehu - Nusa Laut : 75.000,- (Turun di Negeri Titawai)

Senin & Sabtu : 06.00 (Tulehu) -> 08.00 (Titawai)

Speed Pulang :

Nusa Laut (Titawai) - Tulehu : Rp. 75.000,- 

Senin 06.00

 

Jejakers Information :

1. Jangan janji jika ingin berencana pergi ke Pulau ini. Jika sudah terlanjur janji, segera di tepati ya. Pun selama di Nusa Laut jangan sembarang umbar janji untuk mendatangi suatu tempat ya..

2. Siapkan uang tunai yang cukup karena setahu saya tidak ada ATM di Nusa Laut. Yang saya lihat hanya beberapa gen BRI-Link di beberapa rumah / kios. (koreksi jika salah)

3. Nusa Laut adalah salah satu lokasi yang sering dikunjungi untuk spot diving turis mancanegara. 




Selasa, 07 September 2021

Pulau Tam, Sentra Gerabah yang Hampir Punah

 

Pulau Tam? Ya, terdengar asing di telinga bukan, tidak hanya bagi orang awam, masyarakat Maluku'pun juga jarang mendengar daerah ini. Pulau Tam tergabung pada gugusan di kepulauan Kei, namun secara administratif masuk dalam wilayah Kota Tual.  Perjalanan ke Pulau Tam Beta mulai dari Ambon menggunakan Kapal Pelni. Oh iya, perlu teman-teman ketahui bahwa perjalanan kali ini Beta lakukan pada masa pandemi. Tentunya syarat-syarat kelengkapan kesehatan seperti Rapid Test Antigen, Kartu Kuning (Kartu Pemeriksaan kesehatan di Pelabuhan) serta Vaksinasi telah Beta lengkapi semua. 

Tiket berikut berkas Rapid Tes dan Kartu Kuning

Setibanya di Tual, Beta memilih menginap di penginapan yang berlokasi tidak jauh dari pelabuhan. Ini sangat memudahkan Beta untuk sewaktu-waktu untuk cek jadwal kapal di pelabuhan. Sebenarnya jadwal Kapal dari Tual ke Pulau Tam dilayani oleh Kapal Fery ASDP seminggu dua kali; yakni pada hari Kamis dan Sabtu. Namun karena alasan perbaikan, Kapal Fery tujuan Tam hanya dilayani pada hari Sabtu.

Penginapan Cahaya Tual menjadi andalan tiap kali Beta ke Tual
 (Bangunan tiga lantai dengan tembok berkeramik putih)

Selalu tekankan, ada harga ada fasilitas ya.
Salah satu tipe kamar yang Beta tempati di penginapan Cahaya.

Nah, karena jadwal tersebut, Beta kepikiran untuk menggunakan plan B. Beta kontak kolega untuk menjemput di Pulau Tayando pada hari Kamis, dengan harapan dapat pulang kembali ke Tual dengan kapal Fery pada hari Sabtunya. Namun rencana tersebut malah gagal total.

Nyasar dan Susah Sinyal

Kapal Fery Tanjung Madlahar sebagai andalan masyarakat
untuk bertransportasi ke pulau-pulau kecil di Kepulauan Kei

Kamis pagi Beta berangkat ke Pelabuhan Tual, dan kapal Fery berangkat pukul 09.00 WIT. Setelah 4 jam perjalanan kapal sempat singgah satu kali, sebelum melanjutkan perjalanan. Dua jam kemudian Beta tersadar, harusnya Tayando ditempuh 4 - 5 jam saja dari Tual. Namun ini sudah lewat 2 jam'an, belum tampak satupun daratan, Beta mulai panik. Sejurus kemudian Beta mulai tanya beberapa orang di kapal, namun jawaban belum memuaskan. Ternyata mereka taunya Beta Tujuan Tayando Yamtel, dimana tujuan tersebut akan disinggahi setelah transit di semua pelabuhan. Setelah bertemu dengan satu anak muda Tayando, Beta akhirnya tau kalau Beta nyasar.
Tempat duduk untuk kelas ekonomi

Tampak muatan dalam Kapal Fery

Susahnya sinyal di atas lautan menambah rasa bersalah Beta kepada kolega yang sudah siap menjemput Beta dari Tayando ke Tam.. Rasa-rasa ingin berenang saja.. Dan benar saja, setelah mendapat sinyal, Bapak Sabila (kolega kami) telah mencari Beta keliling pulau Tayando. Sungguh, sesuatu yang di luar rencana.
Kenapa Beta bisa "nyasar",, ternyata di Tayando dan beberapa pulau kecil di Kepulauan Kei, masih banyak yang belum memiliki dermaga / pelabuhan besar untuk kapal bersandar. Semua aktivitas berlangsung di tengah lautan. Bagi pendatang seperti Beta, bongkar muat orang di tengah laut adalah pengalaman baru. Bukannya tanya orang ini sudah sampai mana, Beta malah asik mendokumentasikan kegiatan tersebut. Yang ada di pikiran Beta adalah, kapal sampai ya ada pelabuhan..hhe.. That's it! lain ladang lain belalang memang, lain daerah lain juga keadaannya.. dan pikiran Beta tidak pada tempatnya saat itu dan tidak menyadari bahwa Beta sudah sampai tujuan. Akhirnya Beta harus menumpang kapal Fery tersebut selama 24 jam dan kembali ke Tual. Sungguh perjalanan yang melelahkan.
Material bangunan banyak ini sejatinya material untuk pembuatan masjid di Pulau Kaimer

Semua material diangkat manual dengan tangan. Dampaknya, tentu saja membutuhkan waktu berjam-jam untuk memindahkan'nya manual dari Kapal Fery ke Speed Boat

Bertemu dengan Para "Pelaku Budaya"

Rasanya belum tuntas tubuh ini me-recovery perjalanan nyasar satu hari yang lalu. Tapi, pagi ini (Sabtu) Beta kembali bergegas untuk mengejar kapal Fery dari Tual menuju Pulau Tam. Setelah menempuh kurang lebih 6 – 7 jam perjalanan, akhirnya Beta sampai tujuan. Selama di atas kapal, Beta berkenalan dengan beberapa penumpang lainnya. Sebagai bonus SKSD (Sok Kenal Sok Deket); Beta bersekempatan mendapat tumpangan speed gratis saat menyeberang menuju pessir pantai..hhe.. Selama di Pulau Tam, Beta tinggal di rumah salah satu kolega, yakni keluarga Mantreanubun. Tentu saja, tak lupa untuk melapor diri ke Bapak Sekretaris Desa setempat.

Speed Boat yang membawa penumpang dari Fery ke pesisir

Pulau Tam,  Desa Ngur Hir
Sebenarnya tujuan utama Beta datang ke Pulau Tam adalah untuk melihat langsung proses pembuatan kerajinan gerabahnya. Salah satu turis berkebangsaan asing pernah menuliskan pengalamannya menjelajah Kepulauan Kei melalui artikel online. Dari situlah Beta mendapatkan informasi tentang Pulau Tam. Jauh-jauh hari Beta sudah menghubungi keluarga Mantreanubun untuk memesan beberapa kerajinan tersebut. Memang, membuat Ub (Gerabah dalam Bahasa Setempat) atau dikenal dengan Tampayang / Guci Tempat Air tersebut membutuhkan proses yang tidak sebentar. Dari proses pengulenan bahan dasar tanah liat, pembentukkan, pengeringan dan pewarnaan membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu; sebelum berakhir pada proses pembakaran. 

Perlengkapan Mama Siti Hajar saat membuat gerabah. Yang membuat gerabah ini khas adalah pewarna alamnya (perhatikan batu warna merah). Batu yang biasa disebut dengan Wat Mas ini memmberikan hasil warna yang khas dan ethnik.

Gerabah Ub (Tempat Air) yang tebuat dari komposisi Tanah Liat dengan campuran sedikit pasir halus, diuleni sampai kalis; kemudian dibentuk dan dianginkan selama dua minggu

Salah satu pengrajin gerabah yang Beta temui adalah Mama Siti Hajar. Walaupun usianya sudah senja dan tidak lancar Berbahasa Indonesia (masih menggunakan bahasa daerah), senyum dan semangatnya sebagai perajin gerabah masih dapat Beta rasakan. Selain Siti Hajar, Beta juga berkesempatan bertemu dengan Siti Johora, Sarinah, dan Mama Widat. Tentu saja, mereka adalah generasi terakhir pengrajin gerabah di pulau ini, yang kemudian Beta lebih senang menyebut mereka sebagai pelaku budaya. Gerabah yang mereka buat dahulunya berfungsi sebagai tempat air, tempat memasak obat, dll. Namun, fungsi tersebut kini telah tergantikan dengan perlengkapan yang lebih tahan lama / modern seperti berbahan plastik maupun stenless stell. Beberapa diantaranya mencoba berinovasi dengan membuat vas dan pot bunga sesuai pesanan. 

Mama Siti Hajar dengan gerabah Ub karyanya

Mama Siti Johora sangat senang saat Beta membeli gerabahnya.. 

Mama Sarinah membuat asbak dan juga mainan anak-anak berbentuk ayam

Mama Widat berkesempatan menunjukkan sekuruh karyanya.
Bahkan Mama Widat masih membuat gentong ukuran besar untuk tempat air lo.. 

Saat Beta bertanya ke salah seorang anak perajin, mereka menjawab tidak bisa membuat kerajinan ini. Beberapa hal yang membuat kerajinan ini tidak ter-regenerasi adalah kurangnya peminat (pembeli). Karena fungsinya sudah tergantikan dengan perlengkapan yang lebih modern, permintaan sebenarnya ada, namun tidak banyak. Rata-rata masih didominasi oleh kolega maupun instansi terkait sebagai barang kenangan, media promosi pariwisata dan pajangan.  Harga satu Ub biasanya dijual mulai dari puluhan ribu (ukuran sedang) sampai 100ribu'an (untuk ukuran besar). Karena dikerjakan disela waktu luang, kerajinan ini dilihat sebagai barang yang kurang memiliki nilai ekonomis lagi. Padahal gerabah ini sebenarnya memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Jika tidak ada regenerasi, sangat dikhawatirkan jika nantinya akan berakhir menjadi benda pajangan penanda zaman di museum. Sungguh sangat disayangkan memang, problema yang sama saat Beta berkunjung ke salah satu sentra gerabah lain di Desa Banda Eli; Pulau Kei Besar. Oh iya, sebagai apresiasi, Beta sempat membeli beberapa hasil karya mereka. Senyum simpul'pun merekah; pengrajin senang, pembeli'pin juga senang.. semuanya senang.. hhe

Salah satu inovasi Mama Siti Hajar; membuat pot dan vas bunga

Setelah melihat proses pembuatan gerabah, dan bertemu dengan para “Pelaku Budaya”, tidak banyak akhtivitas yang Beta lakukan di Pulau Tam. Sebenarnya ada Goa tempat masyarakat mengambil air di pulau ini, tapi… panasnya Pulau Tam di siang hari adalah waktu yang pas untuk “balas dendam” istirahat yang belum terlampiaskan karena nyasar kemarin..hhe..

Pulang ke Tual dan bertolak ke Ambon

Inget saat Beta SKSD dengan penumpang lain saat perjalanan ke Pulau Tam di atas Kapal Fery? Nah.. Saat itu Beta berkenalan dengan salah satu Kaka’ bernama  Dino. Kaka’ Dino dan beberapa rekannya kebetulan sedang bertugas untuk pendataan perumahan penduduk. Setelah saling berkabar dan satu lain hal, kami sepakat untuk pulang ke Tual dengan menggunakan speed boat dari masyarakat Senin pagi. Setelah berpamitan kepada keluarga (yang bisa dibilang cukup tergesa-gesa), kami bertolak ke Tual.  Saat di tengah perjalanan, kami sempat bertukar speed dan singgah di Pulau Nunya’i. Ya, pulau panjang berpasir putih ini sempat beta lihat dari kejauhan saat perjalanan di kapal Fery kemarin dan ternyata memang eksotisnya luar biasa! Karena memang masih asli dan jarang dikunjungi juga ya..hhe..
Pulau Nunya'i, dapat ditempuh dengan speed boat dari Tual selama tiga jam

Setelah perjalanan tiga jam (dengan basah kuyup selama perjalanan) kami akhirnya sampai Tual. Sesampainya di Tual, Beta berpisah dengan Kaka’ Dino, dan secepat kilat langsung melakukan rapid tes, membeli tiket kembali ke Ambon sekaligus packing.. Sungguh perjalanan kali ini bisa disebut marathon trip..hhe..

Demikian perjalan  Beta, semoga dapat menginspirasi teman-teman untuk berkunjung juga ke Kepulauan Kei khususnya Pulau Tam. Beta sudah tiga kali ke Kepualau Kei dan selalu saja alasan untuk kembali dan kembali lagi.. Wait for me (again) Kei..

Ucapan Terimakasih



1. Tuhan YME
2. Sdra. Jalal Mantreanubun atas segala informasi dan bantuannya untuk menghubungi kolega'nya di Pulau Tam
3. Bapak Soleman Masahida (Bapak Sabila), Kaka' Abdul Jabar Elwahan (Jabar) dan seluruh keluarga di Pulau Tam yang telah bersedia membukakan pintunya untuk Beta singgah selama berada di Pulau Tam
4. Bapak Sekretaris Desa, Para "Pelaku Budaya " pengrajin gerabah dan semua masyarakat Pulau Tam, khususnya di Desa Ngur Hir
5. Bung Nurcholis Effendy; yang bersedia membantu untuk mencarikan tiket dari Ambon ke Tual
6. Sdra. Dino, Hendri Aldryn Lestuny, Jeery Alfons, dan beberapa teman-teman yang saya hubungi (dan bersedia membantu) untuk memperlancar misi perjalanan saya ini

Yuk, intip video perjalanan Beta :




Estimasi Biaya Perjalanan


Tiket Ambon - Tual (Kapal Pelni): Rp.290.000 / Orang (tipe tempat tidur ekonomi)

Jadwal dan pemesanan bisa cek di : www.pelni.co.id

Atau datang langsung di Travel Agen di sekitar pelabuhan

*Jadwal dapat berubahsewaktu – waktu

Tiket Kapal Fery (Bahtera Nusantara)

- Rp. 300.000 / Orang (untuk tipe tempat duduk)

- Rp. 400.000 / Orang (untuk tipe tempat tidur)

Kontak / Pemesanan :

Agen Cabang Ambon :

Jl. Wem Reawaru No. 29 B (Belakang Kantor Gubernur Maluku)

Kontak : 081247100053 

Agen Cabang Tual :

Jl. Pattimura - Tual

Kontak : 085242230412 

Jadwal :

Ambon – Tual : Kamis

Tual – Ambon : Sabtu

*Jadwal dapat berubahsewaktu – waktu

Tiket Fery Tual – Pulau Tam :

Rp. 45.000 / Orang (untuk tipe tempat duduk ekonomi)

Datang langsung di loket pelabuhan satu jam sebelum kapal berangkat

Jadwal :

Tual – Tayando – Tam : Kamis & Sabtu : 08.00 WIT

Tam - Tayando - Tual : Kamis & Sabtu : 14.00 WIT

*Jadwal dapat berubah sewaktu - waktu

Sewa Speed dari Tam menuju Tual : Rp. 200.000 / Orang (tergantung kondisi / jumlah penumpang)

Penginapan di Tual :

Penginapan Cahaya di Tual mulai dari : Rp. 150.000 / Hari *Twin share untuk 2 orang


Kamis, 19 Agustus 2021

Mengintip Gereja Tua Banda Naira

Sudah beberapa kali berkunjung ke Banda Naira, lebih tepatnya singgah / transit; baik itu perjalanan dari Ambon ke Tual maupun sebaliknya. Selalu dan selalu saja gereja Tua Banda Naira tutup (karena Beta datang bukan di hari kebaktian / hari minggu). Kebetulan sekali perjalanan kapal fery Bahtera Nusantara dari Tual ke Ambon (yang beta tumpangi) singgah 5 jam di Banda. Aah.. Kali ini jangan sampai lolos batinku. Saat kapal sandar, langung keluar pelabuhan dan menuju ke gereja yang iconic ini. Benar saja, gereja ini sedang buka. Beta langsung permisi dengan petugas (yang kebetulan saat itu sedang berlatih paduan suara) untuk masuk dan berfoto di setiap sudutnya. Akhirnya....

Gereja Banda tampak atas

Gereja tua yang berwibawa

Rasa-rasa pengen pre-wedding dan pemberkatan nikah di sini... *eh... 

Kenapa Beta ngebet banget masuk gereja yang satu ini, gereja ini dibangun oleh Belanda pada tanggal 20 April 1873, artinya sudah berusia hampir 200 th. Nah yang membuat gereja ini semakin unik adalah adanya 80 nisan yang terdapat pada lantai gereja. Bukannya serem atau merinding, keberadaan nisan tersebut semakin membuktikan bahwa Banda Naira adalah kepulauan di Maluku Tengah yang penuh dengan sejarah. Ah.. selalu saja ada alasan untuk kembali ke Banda Naira.. 





Selasa, 24 Maret 2020

Round Trip Pulau Seram



Pulau yang lebih dikenal oleh masyarakat Maluku ini dengan Nusa Ina (Pulau Ibu) memang nggak habis-habisnya untuk dijelajahi dan terus terang ini untuk kesekian kalinya Beta kembali ke pulau ini untuk liburan. Mengelilingi seperempat Pulau Seram di Maluku Tengah, membayangkan saja sudah lelah, apalagi menjalaninya..hhe..  Butuh tenaga ekstra pastinya dan itulah Beta berasama beberapa rekan merealisasikan perjalanan ter-niat dengan mengunjungi dua tempat yang boleh dibilang berlawanan dengan jarum kompas; Pulau Tujuh dan Air Jodoh (Ninifala).

Ambon - Masohi - Goa Akohi

Berangkat dari Ambon dengan penyeberangan kapal feri malam (di Pelabuhan Liang / Hunimua) pukul 20.00 WIT, kami sampai di Masohi pukul 01.00 WIT. Artinya kami telah menyeberang Feri 2 Jam dan perjalanan darat 3 jam, Istirahat sebentar di  rumah salah satu kolega sebelum akhirnya kami bertolak ke Air Jodoh Ninifala keesokan harinya.
Tarif kendaraan roda empat Gol IV dan Penumpang Liang - Waipirit
Pelabuhan Waipirit - Seram
Pukul 08.00 WIT kami segera bergegas untuk menuju Tehoru dan menuju Ninifala namun sebelumnya kami singgah di Desa Tamilouw. Nah, dari informasi via google di desa inilah terdapat goa dengan stalaktit dan stalakmit yang masih aktif dan dengan jumlah yang mengagumkan. Dan benar saja, saat kami masuk beberapa juga sudah mengkristal dan membiaskan cahaya yang berkilau saat kami menyalakan flash light dari HP sungguh, ciptaan Tuhan yang sangat indah. Bahkan hasil informasi yang Beta dapat dari Google, walaupun kurang populer di masyarakat Maluku stalaktit dan stalakmit ini termasuk yang terbanyak di dunia lo.. Wow.. Untuk memasuki Goa ini, jangan lupa untuk kontak masyarakat sekitar untuk mendampingi ya. Dari Masohi ke Akohi membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam perjalanan darat.

Nyesel banget karena pencahayaan minim dan HP nggak support. Tidak banyak yang bisa saya bagikan tampak dalam Goa'nya.. Next kalaku ada kesempatan kembali lagi.. 

Pemandangan Desa Tamilouw dari atas bukit di depan Goa Akohi
Nggak bisa melihatkan seisi goa karena keterbatasan resulusi HP.. :(
Menurut penuturan pemuda desa yang mengantarkan kami, goa ini sebenarnya tidak sengaja ditemukan oleh masyarakat saat pembuatan jalan yang melewati wilayah ini. Sebenarnya belum puas untuk menjelajah Goa Akohi, konon katanya bisa sampai setengah hari menjelajah Goa ini dan belum ditemukan ujungnya. Hmm.. lain kali harus ke tempat ini lagi. 

Goa Akohi - Air Jodoh (Ninifala)

Saatnya bertolak ke Air Jodoh Ninifala yang jaraknya kurang lebih satu jam lagi dari Goa Akohi. Tarif masuk ke mata air Ninifala hanya Rp.5000,- / orang. Nah satu lagi keajaiban Tuhan, selain pernah melihat tirta empul di Bali, kali ini berkesempatan menyaksikan langsung salah satu sumber mata air dengan debit yang sangat deras. Akhirnya terjawab sudah rasa penasaan selama ini, air dari gunung berasal dari mana. Mata air ini sangat jernih dan memiliki kadar oksigen yang tinggi, air minum dalam kemasan mah lewat...hhe..

Pintu Gerbang Air Jodoh Ninifala (Baru saja selesai dibuat)
Numpang Nampang.. :D

Air Jodoh (Ninifala) - Pulau 7 Pasanea

Kami sadar bahwa perjalanan selanjutnya ke Pulau Tujuh adalah perjalanan yang jauh dan sejalur dengan arah menuju Pantai Ora. Puas kami berendam di Air Jodo (kalau boleh jujur, sebenarnya belum puas..hhe..) kami bertolak menuju Pulau Tujuh - Pasanea yang kami tempuh selama kurang lebih 4 jam perjalanan darat *dengan kecepatan ekstrem..

Nah... sebelum sampai ke Pasanea,, akan disuguhkan pemandangan seperti ini..

Jalan baru...halus dan mulus..

Tempat kami dan pengunjung lainnya menitipkan / menginapkan kendaraan bermotor
Sementara mobil kami inapkan, untuk menyeberang sendiri ke Pulau 7 basudara dapat  menggunakan speed kapasitas 7 orang dengan biaya Rp. 100.000 – Rp. 150.000 / speed boat. Nah, bisa patungan bila datang berombongan. Di Pualu Tujuh, kami menginap di penginapan yang dikelola warga dengan dana desa.. Tarif menginap Rp. 750.000/ malam / bungalow sementara menginapkan kendaraan bermotor per malam dikenakan beaya antara Rp.50.000 - Rp.100.000,-
Speed kapasitas 8 orang, menyeberang kurang lebih 10 menit dari pelabuhan ke pulau utama
Bungalow yang dikelola oleh warga dengan Dana Desa
Ruang Tamu
Pantai Pasir Putih saat sore hari,,,
Dermaga Cinta.. (alah) 
Biar sah kalau sudah menjejakan kaki di Pulau Tujuh..
Papan Informasi dan destinasi

 Karena kami hanya menjejaki pulau utamanya saja, sebenarnya masih banyak destinasi yang bisa dieksplorasi di Pulau Tujuh seperti snorkling atau eksplorasi ke enam pulau lainnya dengan cerita rakyat'nya yang menarik. Tapi suasana sore di sini tenang banget, kalau rombongan bikin tenda juga sepertinya akan nyaman. Terus terang bagi Beta yang sudah lima tahun sudah di Ambon, pemandangan pantai seperti ini sudah biasa..hhe.. 


Pulang ke Ambon via Seram Utara Barat

Puas dan lelah, kami harus menerima kenyataan bahwa perjalanan pulang akan semakin menantang di depan. Apalagi musim libur seperti ini, jangan sampai kami tidak kebagian kapal feri saat menyeberang ke Ambon nanti. Perjalanan kami lanjutkan dengan lintas Seram Utara Barat menuju Taniwel sebelum berakhir di  Pelabuhan Waipirit. Bersyukurnya jalan ini sudah halus mulus dengan aspal, bahkan beberapa jembatan baru saja diresmikan. 
Pemandangan sepanjang perjalan pulang.. 
Pesta Durian di Taniwel.. mantab.. hhe...
Ok, demikianlah catatan perjalanan Beta kali ini. Sedikit banyak semoga membanjtu bagi basudara yang berniat untuk mengunjungi ke tiga tempat tadi. Salam

  Catatan Jejakakibeta :

1. Sewa mobil Ambon – Seram / 2 Hari Rp. 1.500.000 – Rp. 2.000.000. Jangan lupa untuk selalu meamstikan bensin full tank setiap kali perjalanan.
2. Sediakan stok makanan / minuman ang cukup. 
3. Jangan lupa juga siapkan uang tunai yang cukup saat perjalanan. Karena wisata alam yang notabenya jauh dari anjungan tunai mandiri (ATM)
4. Siapkan powerbank
5. Jangan lupa perlengkapan snorkling (kalau punya di bawa)
6. Bawa tenda dan camping di Pulau Tujuh akan menghemat dana dan lebih seru
(jika cuaca mendukung)
7. Siapkan senter / penerangan yang cukup, kamera yang high rest, serta perlengkapan jelajah goa lainnya jika ingin mengunjungi Goa Akohi